Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

TAWA SENJA

Posted by permanas pada 3 Maret 2010

Dia tepat lurus dihadapanku. Tidak terhalang orang-orang disekeliling. Aku tidak tahu ia sedang berdansa dengan siapa, aku hanya terpaku. Kepada baris gigi putih dan rapih, kepada rambut keriting dikepang satu, aku rasa panjangnya melebihi bahu. Gaun coklat menghias dirinya dengan renda-renda putih. Aku tidak tahu berapa jarak antara kami ketika sekilas mata kami saling beradu. Sedetik aku rasa. Lalu semua berjalan seperti biasa. Aku tidak melupakan. Dia masih menari tanpa iringan musik. Perhatianku tertuju kepadanya, untuk beberapa saat aku memperhatikan seluruh tingkah laku dan gerakannya saja, lainnya tidak. Seperti magnet, energiku terserap. Dia tidak mengetahui. Jadi, aku tetap duduk saja menikmati minumanku dan memuaskan pandanganku kepadanya.

Kadang aku tertawa ketika mendapati dirinya melakukan kekonyolan yang tidak disengaja seperti ketika menginjak kaki pasangannya. Mencoba menahan tawa dan mengalihkan wajahku agar ia tidak tahu kalau aku senang mengamatinya dari kejauhan. Tidak terlalu jauh jika hanya terpaut beberapa meter saja. Tapi tetap ada jarak, bukan? Tebakan yang salah. Sebenarnya tidak ada jarak antara kami, yang ada cuma ruang-ruang yang belum tersentuh, terjelajah sampai saat sekarang.  Tiba-tiba saja ia meninggalkan pasangannya tanpa acuh dan menghampiri meja tempatku sedang menikmati sore indah.

“Maaf, aku butuh minum.” Hah, aku cukup terperangah karena ia langsung mengambil minumanku dan menghabiskan begitu saja sekaligus lalu menyeka sejenak bibirnya. Benar-benar serampangan. Aku rasa ia tidak terlalu peduli dengan sikapnya sekarang, terlebih kepadaku.

“Terima kasih,” lanjutnya setelah menaruh gelas kosong ditempatnya semula.

Sepertinya aku akan membayar dua gelas dari satu gelas yang kuminum. Anggap saja aku mentraktir minum dia. Dengan cara di luar dugaan. Aku memang tidak membayangkan soreku berakhir seperti ini. Tampaknya tidak ada yang peduli selain pelayan yang mengganti gelasku dengan gelas baru. Tentu saja masih hangat. Tidak ada ruginya memang, anggap saja kami melakukan sebuah aktivitas ekonomi, sebuah barter dengan cara kuno. Ia menari dan membuatku kagum. Sebagai gantinya dia mendapatkan minuman yang dibutuhkan. Yah, setelah waktu berlalu, aku pun memutuskan melanjutkan menikmati soreku dan meneruskan membaca koran sementara pikiranku entah ke mana.

*** ***

Keberuntungan memang tidak selalu menyertai siapa pun di dunia ini, sama halnya ketidakberuntungan. Bukankah keduanya saling tarik menarik seperti dua buah kutub magnet. Justru itulah yang menyebabkan semuanya berputar secara alami. Tidak selamanya perjalanan hidup selalu lurus, pasti akan ada belokan, tanjakan, turunan, bahkan jalan buntu. Begitulah ketidakberuntungan memaknai arti keberuntungan, dan berlaku kebalikannya.

Seperti ketika sebuah suara menyeruak dari punggungku.

“Jadi, kau memang biasa berada di sini, ya?” Tadinya aku akan terkejut, urung terjadi.

“Jadi, kau juga sudah biasa ada di sini, ya?” balasku.

“Tergantung, apakah kau menganggapnya sebagai sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan. Jatuhnya sama saja.”

“Aku tidak punya jawaban untukmu kalau begitu.”

“Aneh. Hei, siapa namamu? Dan, ya, kali ini aku traktir kau minum. Waktu kemarin bukankah aku menghabiskan minumanmu,” dia tersenyum.

“Jangan, jangan sebut nama.”

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku akan tetap mentraktirmu sore ini.”

“Hei, aku penasaran, siapa yang kau ajak berdansa beberapa waktu lalu dan tiba-tiba kau berhenti, menghabiskan minumanku dengan wajah kesal kemudian pergi begitu saja?”

“Pacarku, maaf, mantan pacarku.”

“Hah!”

“Kenapa?”

“Apa selalu begitu caramu memutuskan setiap mantan pacarmu. Mengajaknya berdansa, menamparnya dan meninggalkannya.”

“Aku tidak menamparnya, tapi seharusnya aku lakukan. Karena ia memang laku-laki brengsek.”

“Aku rasa kau beruntung.”

“Tahu apa kau soal keberuntungan?”

“Entahlah. Hanya sekedar bicara saja.”

“Dengar, tidak ada yang namanya keberuntungan. Yang ada hanyalah kerja keras. Cuma orang bodoh yang hanya menunggu emas jatuh dari langit dan menyebutnya sebagai keberuntungan.”

“Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah juga sebuah keberuntungan atau hal biasa saja menurutmu?”

“Entah.”

“Sudahlah kalau begitu.”

“Tapi tetap saja aku berpikir tidak ada yang namanya keberuntungan. Kebaikan atau keburukan yang saat ini kita alami adalah hasil perbuatan kita sebelumnya. Sependapatkah kau denganku.”

“Biar kutebak, kau mencari pengakuanku untuk mendukungmu.”

“Tidak. Ayo kita berdansa,” ajaknya tiba-tiba. Tanpa sepengetahuanku ia sudah menarikku. Aku tidak bisa menolak, lagi pula tidak ada salahnya.

“Apa setelah ini kau akan menamparku lalu memutuskanku?”

“Pertanyaan bodoh. Sejak kapan kau menjadi kekasihku. Kecuali itu, aku akan menamparmu kalau kau berbuat kurang ajar kepadaku.”

“Aku akan beruntung kali ini.”

“Yah, mungkin kau akan beruntung.”

“Aku pikir, orang yang beruntung adalah orang yang memiliki kebebasan atas dirinya sendiri, melakukan sesuai kehendak dirinya sendiri tanpa ada suatu paksaan dari luar.”

“Aku tarik ucapanku kalau begitu. Karena untuk saat ini, kau tidak beruntung.”

“Kenapa?”

“Bukankah kau berdansa denganku adalah karena paksaanku, di sini, tanpa musik dan tengah   diperhatikan banyak orang di kafe ini.”

“Aku akan tetap menjadi orang beruntung. Bukankah, biar bagaimana pun aku menyetujuinya. Bisa saja tadi aku menolak dan tetap duduk di sana, tetap menikmati minumanku. Bukankah sekarang aku bisa mendekatimu.”

“Kau bercanda?”

“Aku serius.”

“Aku ingin duduk sekarang.”

*** ***

Beberapa waktu lamanya aku tidak kembali ke kafe tersebut, sekedar duduk atau melewatkan sore hari di sana. Meski terkadang aku merindukan udara sore di sana dengan aroma pantai yang lekat dan dipadu suara camar laut berlomba dengan ombak. Kedamaian satu-satunya adalah ketika menyadari aku bagian dari semua itu. Suatu kepingan waktu bertaut dengan sejarah tiap-tiap orang yang berada di sana.

Sekarang aku malah sudah berada di bangku favoritku. Bangku yang menghadap ke kerumunan orang-orang, karena aku senang memperhatikan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka. Ada yang bilang, perhatikanlah seseorang dan kau akan menemukan kebiasaan dan perilaku mereka, bahkan yang terburuk sekalipun, kau akan tetap menemukannya. Kau hanya butuh kesabaran dan kejelian untuk melihat hal-hal yang tak terduga. Begitulah kebiasaanku dimulai, dengan memperhatikan orang lain. Saat ini saja aku tengah memperhatikan seorang paruh baya dengan tubuh kegemukan namun tetap memiliki kebiasan makan yang tidak terkontrol, aku tahu dari caranya makan. Ia begitu bersemangat menyantap makanan apapun yang dihidangkan kepadanya. Perkiraanku, tak lama lagi ia akan punya masalah dengan obesitas jika tetap berlaku seperti itu, atau ia memang sudah bermasalah, hanya saja belum menyadari. Dan, satu lagi yang kusuka dari bangku tetap favoritku ini, sebentar-sebentar angin membawa aroma laut di belakangku dan nyanyi camar. Bergembira berkejaran dengan ombak mencapai pantai. Untuk sesaat soreku cukup sempurna dengan cappuccino yang baru saja dihidangkan dengan dua donat bermandikan coklat dan strawberry di atasnya. Mengingat orang yang barusan kuperhatikan, aku jadi kurang bernafsu menyantapnya dan, aku rasa, aku harus mengatur ulang dietku.

“Hei, pria tanpa nama. Aku lihat kau. Sudah agak lama, bukan. Sejak, hmm… terakhir kali kita berdansa,” sapa seorang perempuan. Tentu saja aku mengenalnya, maksudku, wajahnya yang kukenal.

“Hai, tentu saja. Kau juga tak menyebutkan nama.”

“Begitulah. Shakespeare bilang, ‘Apalah arti sebuah nama. Mawar yang diberi nama lain pun harumnya akan tetap sama,’” balas dia.

“Penyair yang romantis. Kau mau minum? Biar ku pesan.”

“Tak perlu, aku sekedar lewat dan ingin memastikan apakah kau orang yang tak ingin namanya disebut beberapa waktu lalu.”

“Dugaanmu tak salah.”

“Hei, kau mau berjalan-jalan di pantai denganku?”

“Baiklah. Biar kuhabiskan minumanku dulu.”

Pasir di pantai cukup hangat, terlebih matahari mulai turun menampakkan cahaya kuning keemasan. Belum lagi awan tipis membuatnya semakin membiaskan sinarannya di sana, seolah-olah ada tirai halus mencadarinya. Aku lihat, camar itu masih bermain di atas air, sesekali menukik dan ketika terbang kembali, seekor ikan tercengkram pada kakinya. Tenang sekali alam raya bekerja, dan aku menyaksikannya.

“Kau diam,” bisiknya pelan sambil menyentuh jari telunjuknya pada hidungku. Aku agak terkejut merasakan sentuhannya. Dia hanya tersenyum, menahan tawa kupikir. Aku rasa karena wajahku terlihat bodoh sewaktu terkejut tadi.

“Sekedar meresapi sore dan menikmati saja,” jawabku menenangkan diri.

“Kau senang menyendiri, ya?”

“Apa?”

“Iya, aku lihat kau suka duduk menyendiri.”

“Aku rasa setiap manusia adalah makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Ada kalanya ia ingin sendiri, ada kalannya ia juga ingin bersentuhan dengan lingkungan sekitar. Tidak terkecuali aku.”

“Cukup memberi gambaran. Tebak, aku seperti apa?”

“Seorang perempuan, sejauh yang kulihat. Tapi, terkadang, penampilan pun bisa menipu. Kecuali bagi mata terlatih, itu pun tidak memberi jaminan. Sesekali, mata pun bisa meleset dalam memberikan persepsi untuk otak dan pikiran.”

“Apa kau selalu sesinis ini pada setiap orang? Tentu saja aku perempuan.”

“Hanya kepada orang-orang tertentu saja.”

“Apakah itu termasuk aku?” tanyanya agak berteriak karena sekarang ia sedang bermain dengan ombak. Sore ini akan terasa panjang dan melelahkan sepertinya, batinku mulai mengeluh. Betapa tidak, sekarang aku sedang menghadapi seorang perempuan yang namanya pun tidak pernah disebutkan. Memang aku yang meminta untuk tidak saling menyebut nama dalam perkenalan ini. Lain soal. Aku jarang menghadapi hal seperti ini. Kesenanganku adalah menyendiri.

Yang kudapat, sore ini tidak akan pernah sama lagi dengan sore-sore sebelumnya. Aku senang melihat matahari tenggelam dengan tenang. Sore ini aku bahkan tidak ingat kapan matahari tenggelam. Sudah sejak tadi mungkin, sejak mataku terlalu sibuk dengan sesosok perempuan dihadapanku. Seperti yang kubilang, tidak ada ruang diantara kami, bahkan, sekalipun kami bertentangan. Ruang-ruang itu seakan hilang. Berharap waktu berhenti dan semua berjalan lambat. Tidak tua, tidak juga muda. Gerakan adalah esensi, menjadi sebuah kemurnian tanpa batas. Keberadaan kami saat ini sekaligus menjadi kenyataan benda-benda dan makhluk-makhluk lain di sekeliling kami. Entah kalau ketiadaan. Satu-satunya keadaan adalah ketika semua menjadi satu kesatuan energi tak berhingga. Saling tarik dan menolak. Mengikat dan melesat secara terus menerus.

Dia berhenti bermain-main. Pantai di sini telah kehilangan cahaya. Namun keremangan dikejauhan membuat tempat ini seperti berada di dunia yang benar-benar lain, belum pernah terjamah. Tapi aku masih bisa lihat dia semakin mendekat. Merobek bats-batas antara kami.

“Bawa aku pergi bersamamu,” bisiknya lirih.

Aku terpaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: