Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

MENJADI MANUSIA TIDAK WAJAR

Posted by permanas pada 4 Agustus 2013

Manusia adalah pribadi yang berbeda satu sama lain, saya sangat setuju, tapi ketika hak untuk berbeda itu ditolak tanpa mempertimbangkan kemerdekaan secara individu dan secara sosial, saya rasa justru itulah masalah dari sebuah pemberontakan dimana penolakan merupakan titik terendah dari rasa kemanusiaaan untuk secara total berbeda.

Ada yang ingin berbeda secara fisik, ada yang ingin berbeda secara pemikiran, bahkan sampai hal  yang sangat fundamental, ada  yang ingin berbeda sampai kepada masalah rasa dan jiwa. Sah-sah saja ketika ada  yang bilang rasa garam itu bukan asin melainkan asam atau manis. Meski secara fakta garam itu identik dengan rasa asin, tapi dalam kondisi tertentu, jangan paksakan kebenaran umum menjadi kebenaran individu yang harus dijejalkan menjadi kebenaran bagi dirinya. Pribadi yang merdeka akan selalu gelisah dan tidak pernah puas akan keadaan saat ini. Ia akan selalu mencari batas-batas yang orang lain belum pernah mencapainya, atau tidak ingin mencapai batas-batas tersebut karena sudah saking nyamannya dengan keadaan saat ini yang ia percayai sebagai batas tertinggi yang telah ia capai.

Maka, dalam titik tertentu, saya tidak pernah merasa direndahkan ketika seseorang bilang kalau saya tidak waras, diluar kewajaran umum, jiwa yang chaos, dan entah apalagi obrolan yang membuat saya tersenyum sendirian karena mungkin terlalu lucu bagi saya untuk menyita pikiran dengan hal sepele yang bagi mereka justru sangat penting karena dapat mengganggu stabilitas kebenaran umum yang telah mereka yakini sebelumnya, bahkan hingga saat ini.

Jadi, kalau tiba-tiba saya melihat orang telanjang ditengah jalan yang menurut prasangka umum ia adalah orang gila, boleh saja saya menduga ia tengah berlatih peran secara totalitas bagaimana rasanya menjadi orang diluar kewarasan umum yang pada saatnya akan ia tunjukkan di muka umum di atas panggung, dan pada gilirannya mendapat penghargaan karena telah menempuh batasan yang orang lain tidak mau menyentuh batasan itu secara pribadi. Justru itulah kemenangan atas individu ketika batasan itu bukan lagi hal yang tabu untuk didobrak.

Secara tidak sadar saya suka trenyuh melihat kegilaan yang dipanggungkan dihadapan penonton yang justru sangat waras dan wajar, aplaus atas kegilaan menjadi sedemikian pentingnya dalam dunia yang serba singkat ini demi hanya untuk memperpanjang sedikit waktu bahwa ketidakwarasan itu sudah sepantasnya mendapat pengharagaan. Anggapan bahwa panggung itu memang sengaja dipersiapkan untuk segala ketidakwajaran atas kehidupan dan bangku-bangku yang penuh sesak dengan “kewajaran” itu pun datang memang mengharapkan “sesuatu” terjadi di atas sana. Bahwa kelak, tawa yang terbahak-bahak itu  justru sedang menertawakan kehidupannya sendiri. Dan kebangggaan itu dikukuhkan dengan penghormatan applaus standing yang tanpa henti (dalam menepuk tangan untuk diri sendiri) dengan mengamini ketidakwajaran ini adalah hal lumrah dan tidak perlu lagi menjadi pertanyaan. Tanpa mendapat perintah, saya pun ikut menepuk tangan sendiri sambil melihat orang disamping saya yang juga tengah menepuk tangan (dengan pikiran mengawang) tapi tetap berusaha tersenyum tanpa bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: