Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

pelarian

Posted by permanas pada 25 Mei 2014

Seorang pelarian yang bersembunyi dalam keramaian adalah sebuah tindakan pintar dan berani,dibutuhkan lebih dari sekedar nyali besar untuk berada di kerumunan sementara banyak orang mencari hidup atau mati. Tapi itu memang tindakan pintar. Sebuah ungkapan menyatakan persembunyian paling aman adalah tempat berbahaya. Tapi tidak banyak orang berani melakukannya. Lebih dari mereka bersembunyi dalam ketakutan dan mencari tempat sepi untuk mengasihani diri.

“Aku tidak habis pikir jika aku menjadi seorang pelarian dan harus bersembunyi, jadi untuk apa aku berusaha keras bebas dari tempatku yang terkungkung dan terperangkap dalam tempat pengap yang tidak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Aku pikir itu tidak masuk akal dan tidak ada seorang pun yang menyangkalnya, nikmatilah kebebasanmu sendiri, kawan.” aku seseorang yang tengah duduk di taman bersama dengan manusia-manusia lainnya yang tidak terlalu peduli pada apapun selain dirinya mereka.

Jadi, aku pikir itu bukan mustahil, memang sangat menyebalkan berada dalam tempat sepi, pengap,dan mengetahui bahwa pelarian ini dilakukan untuk menghidari hal tidak menyenangkan sebelumnya dan malah terperangkap dalam tempat  lebih buruk.

Keriuhan ini memang bukan harapan satu-satunya dalam melakukan pelarian, pelarian dalam hal apapun, dan entah alasan yang dilontarkan, sebuah pelarian tetaplah pelarian. Melarikan diri dari hal-hal yang membuat seseorang menderita dan mencari penyembuhan, atau pencerahan. Mungkin juga sebuah perenungan sejati. Segelintir orang mengatakannya perpindahan. Melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain, berharap meninggalkan satu sisi memberi pencerahan pada titik baru yang disinggahi.

Kadang kau tidak bisa menemukan apa yang kau harapkan. Ketika kau menginginkan sesuatu kau berharap alam semesta mendukung keinginan tersebut. Semesta memiliki keinginan sendiri, dan kita berada dalam proses keinginan semesta tersebut. Kita bisa saja meyakini bahwa kita mampu melawan, tapi kemungkinannya hal tersebut adalah semu, kita tidak yakin mana yang benar-benar bisa kita yakini dalam kebenaran tersebut. Jadi disinilah pelarian itu dimungkinkan, aku rasa hal-hal diluar kesadaran kita mulai bekerja, yang tidak mampu kita lihat, tapi kita tahu, dalam proses keinginan semesta, kita selalu menemukan apa yang dibutuhkan, bukan seseuatu yang diinginkan. Walau seseorang bersembunyi dalam tempat sempit dan pengap atau dalam keramaian. Sebuah persembunyian adalah perantara, seperti sebuah perhentian bus. Kita berhenti dan kita menunggu untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Tergantung dari pilihan kita, jurusan mana yang akan kita pilih untuk kehidupan selanjutnya. Dan semesta menyediakan, kita yang memutuskan.Pilihan kita menentukan pilihan dari semesta, dan semesta selalu memiliki beberapa pilihan dari pilihan kita. Karena itu kita tidak akan pernah kehabisan pilihan, meski kita melakukan pilihan yang salah, selalu ada pilihan lain di mana kita bisa menentukan pilihan selanjutnya untuk diperbaiki. Kita ada dalam proses semesta.

Sejatinya setiap orang adalah pelarian, disadari atau tidak. Ketika dalam proses pilihannya tidak sesuai apa yang diinginkannya dalam satu waktu tertentu kita membutuhkan ruang untuk menjauh. Jarak antara inilah seseorang berada dalam titik kritisnya, ia berhenti dan duduk dalam sebuah halte bus, sebuah perhentian. Ia melihat banyak transprortasi berhenti dan melanjutkan perjalan, di sini ingatan-ingatan dan pengalaman masa lalu bekerja dalam sebuah mekanisme bawah sadar yang akan menentukan pilihannya. Sebijaksana apa ia memilih ditentukan sejauh mana pengalaman dan ingatan mendewasakannya dalam suatu proses  panjang, menempanya hingga saat ia berada dalam sebuah jarak perhentian. Akan selalu ada pilihan untuk setiap pilihan, dan akan selalu ada penawarnya untuk setiap pilihan. Semesta menyediakannya.***permanas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: