Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

– Dia bag. 10

DIA

Sawaludin Permana

bagian 10

Ketakutan seperti apa yang harus membuat seseorang  mengurung wajahnya dalam ketakutan itu sendiri, bukan cuma perasaan itu mampu menguasai dan memiliki kekuatan, tapi ada sesuatu membiarkannya meraba dan menjamah tubuh-tubuh hingga ia tidak lagi memiliki kekuasaan atas diri yang merasuki. Adakah lagi selimut, atau kegelapan, mampu menutupnya. Ataukah badai masih merajut sulamannya antara angin dan udara dingin, mampu menutup gelisah yang demikian hebat meremas. Tidak ada kata-kata terucap dalam malam demikian. Malam merindukan kembali apa yang pernah dikandungnya selama ini, kesunyian. Badai telah merebut darinya, atau ia memang tidak pernah merebut sesuatu apa pun kepada malam seperti itu. Tapi rumah-rumah kayu itu mendekam dalam ketakutan. Ada sesuatu terampas di sana.

Lain lagi dengan kidung-kidung, dinyanyikan untuk mencoba sekedar menenangkan perasaan galau dalam hati, namun bukan juga rintihan diperdengarkan di sana, tapi juga bukan tawa rendah atau sekilas senyum sengaja dilontarkan barang sejenak. Lagu itu bernyanyi begitu saja, keluar dari bibir pecah untuk menarikan apa yang dirasakan. Dan, akhirnya tangan-tangan gemulai milik penari itu menjentik, mengibaskan selendang hitam untuk melayang pada udara. Pelan sekali ia melambai turun, biar angin mengacau, tidak terganggu sedikit pun. Biar api di kepala obor menjilat, biar cahaya remang hilang timbul, cahaya begitu pucat sepucat kulit terendam dalam kebekuan. Tak ada yang dapat menghentikan, tidak ada yang membuat waktu berhenti berdetak, tidak ada yang dapat mengulur hening malam, biar lagu itu dapat melelapkan mimpi-mimpi yang datang ke pembaringan. Tidak ada yang tidak ada.

Siapa bisa berbuat apa saja, pun terkadang tidak bisa berbuat apa-apa. Panji perang mungkin gagah berkibar dalam rintihan dan darah terus meleleh menjadi mata air dan anak sungai di medan mega. Ada yang menunduk, ada jantung masih berdetak di ujung panah yang pergi meninggalkan busur sebagai ibunya, lalu, ada mata air merembes memenuhi panggilan dahaga. Haus yang sangat. Mata air meresap jauh hingga membasahi panji-panji yang telah penuh dengan noda darah seorang prajurit. Menancap di tubuhnya sendiri. Panji yang ia bawa dan rentangkan harus memenuhi seluruh urat di nadinya.

Ada banyak cerita menyusup lewat celah dinding malam dan tirai yang masih tertutup, atau pada telinga di mana terselip melati, wangi menebar aroma lembut, tapi tetap tidak menenangkan. Ada bocah laki-laki dan seorang perempuan merangkulnya, melindungi dalam belaian lembut antara pelukan dan cinta, menaut di sana. Tubuhnya menggigil meminta hangat. Airmata ibunya membuat tertidur dan dingin tidak lagi melilit tulang-tulang yang masih muda.

Biar demikian, masih ada yang mencoba bertahan ketika badai melemparkan debu hingga batas bebukitan, ada kumpulan orang saling membagi kehangatan dalam api yang sudah tidak berkuasa atas kayu-kayu yang dilumatnya untuk segera menjadi abu, tidak lagi ingin diteruskan. Kumpulan itu menjaga agar tidak padam, atau mereka akan segera memadamkan tubuhnya sendiri dan merasakan kesakitan ketika urat nadi mereka mulai membeku. Satu ringkik kuda sudah memberi tanda, jantungnya hampir lumpuh, ia sedang sekarat, tapi tetap berjuang untuk hidup. Kain hitam yang membebat kepala mereka berkelebat cepat menahan udara kencang mengandung pasir. Hampir tidak ada kuasa menghalau kekuatan itu.

“Sepertinya kita tidak akan ke mana-mana, Kamil,” kata seseorang dari kumpulan itu dan tangannya berusaha menggapai-gapai jilatan api yang meliuk tak tentu.

“Kita memang tidak akan ke mana-mana, Ketua. Bukankah itu yang Ketua inginkan?” jawab Kamil, salah seorang pengikut gerombolan penunggang itu.

“Kau benar.”

“Boleh aku bertanya?”

“Kau mau bertanya apa di malam yang tidak menentu ini, yang sebenarnya aku juga tengah bertanya-tanya kepada diriku, kapan badai ini akan berhenti dan aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang telah membawaku ke tempat ini.”

“Sebenarnya itu yang mau kutanyakan kepada Ketua,” Kamil berusaha menggapai jilatan api, sementara sebagian dari mereka sudah terlelap saling berdekatan untuk membagi kehangatan dengan berlindung di balik selimut tebal dan dekat dengan api. Hanya Wangsa Kanaka dan Kamil saja masih terjaga di tempat seperti itu. Kamil sejenak memperhatikan kuda-kuda mereka, tertambat pada sebuah bangkai pohon kering yang tumbang, sebagian dari kayu itu telah menjadi abu.

“Aku merasa kita kemari hanya untuk menunggu sesuatu, Kamil. Setelah beberapa saat lalu, aku kembali ke sungai itu. Tapi yang kudapati kumpulan orang-orang itu telah mengusik sungai Impi. Salah seorang dari mereka mengaku mengenal siapa aku, suaraku, bahkan katanya cerita-cerita telah sampai ke telinga mereka. Aku sungguh tidak habis pikir sampai sekarang. Apa yang sebenarnya akan terjadi.”

“Itu yang akan kita cari tahu, Ketua. Aku yakin, semua dan apa yang kita lalui dan kita tempuh semua sudah memiliki jalan sendiri dan kita adalah pelaku yang berperan untuk mengetahui semua rahasia tersebut dari apa yang kita lalui dan kita tinggalkan di belakang yang sesungguhnya ia selalu di depan mata dan tidak pernah luput ketika kita mengalami kesedirian. Ia akan selalu menguntit di belakang dan setiap sisi dari diri kita. Bayangan itu akan selalu membayang karena itu adalah memang sudah sifatnya sendiri.”

“Apa kau masih menyisakan tuak di botol itu, Kamil?”

“Biar kuperiksa,” Kamil bergegas meraih botol tuak yang ditunjuk. “Masih setengah, Ketua.”

“Bawa kemari. Mungkin itu akan mengusir kebekuan di tubuhku.” Wangsa Kanaka segera meraih botol yang diberikan Kamil, ia mereguknya. Hawa panas mulai membakar dirinya. “Badai tidak juga mereda.  Lebih baik kau tidur saja, biar aku sendiri yang terjaga. Aku belum ingin tidur dalam keadaan begini,” lanjut Wangsa Kanaka.

“Biar aku menemani Ketua di sini, aku juga merasa enggan untuk tidur. Lagi pula memang harus ada yang terjaga.”

“Hah, tanpa berjaga pun malam sudah membuat kita terjaga.” Sekali lagi Wangsa Kanaka menenggak tuak yang digenggamnya.

 

““““

 

Udara mengandung gumpalan embun itu merambat sejengkal demi sejengkal tanah dan semakin jauh menerobos, lalu jalan-jalan lengang, lorong-lorong begitu senyap. Tak ada suara jejak kaki setapak pun menginjak di sana. Hingga sampai pada sebuah jendela yang menderit setelah lelah diombang-ambing angin dan tak satu pun yang merapatkannya, jendela itu sekarang layuh pada bingkai berenda kembang-kembang. Di dalamnya, pada sebuah kamar dan lampu minyak yang hampir karam itu pun masih menempel di dinding bilik kasar. Seonggok jiwa tergeletak pada pembaringannya dan tidak ada satu pun menyaksikan kalau jiwa itu berjuang untuk dirinya sendiri dan di antara ruang waktu yang memisahkan, antara ruang yang begitu halus dan tidak sampai tercermin pada kilatan mata. Satu jiwa masih terus berjuang antara kepayahan dan jantung yang mengempis, lalu udara begitu sesak menghimpit nadinya, wajah tua itu mengendur, tatapannya redup, lemah tangannya menggapai udara yang sudah bercampur dengan gumpalan embun sampai akhirnya ia menjentik pada ujung jarinya hingga bergetar dan jatuh kembali pada tanah di bawah pembaringannya yang kering.

Malam itu mungkin telah menjadi malam penuh tenang dan manja, lalu merajuk pada pembaringan. Hanya ada satu kamar yang jendelanya dibiarkan terbuka. Sepasang mata yang tertutup rapat tidak lagi harus memandang jendela dan melihat keluar dengan mata mengandung air. Tidak lagi harus pergi dengan rasa terluka. Sekarang ia terbebas dari semua perasaan yang hinggap di jiwanya. Meski tidak seorang pun mengetahui, ia dapat pergi tanpa harus menoleh ke belakang. Namun, gemericik air dari sungai Impi masih suka menyusup di antara keheningan di sana. Menari dengan liukan tenang dan tidak menemukan sebuah akhir.

 

““““

 

Waktu akan terus melesat maju, bukan seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Waktu adalah waktu dengan tujuannya sendiri, tidak ada yang pernah tahu apa yang akan dibawa olehnya. Semua bisa saja kehilangan namun juga bisa mendapatkan apa yang sepantasnya di dapat. Apa yang ada di belakang memang seharusnya ditinggal, bukan karena sebagai beban, bukan karena terlalu berat dipikul, juga bukan karena sesuatu itu harus ditinggal. Karena ia akan menjelma dalam diri masing-masing yang meninggalkannya.

Ada kembang menaut di rambut Manyar, diselipkan sendiri dengan tangan kirinya. Seperti biasa ia selalu mendendang lagu sambil mengibaskan aliran sungai Impi ke seluruh badan dan ke sekeliling dirinya, seakan bermain-main dengannya. Burung yang hinggap di pinggir sungai berkicau mengiring senandung Manyar.

“Orang yang punya harga diri tentu tidak akan muncul dari punggung seseorang dan mengamatinya ketika ia sedang lengah. Bukan begitu, Tuan?” kata Manyar ketika ia merasa ada seseorang mengamatinya sejak tadi. Manyar tidak menoleh kepada orang yang dimaksud.

“Maaf, bukan itu sebenarnya maksudku. Hanya saja aku begitu terpesona dengan seseorang yang menyatukan dirinya dalam aliran sungai yang dingin,” sambut seseorang akhirnya dan menyuruh kudanya sampai ke pinggiran sungai. Manyar masih merendam dirinya di sana tanpa pakaian sehelai pun.

“Apa kau hendak bermaksud tidak baik kepadaku?” tanya Manyar lagi. Kali ini ia membalikkan tubuhnya ke arah penunggang kuda hitam yang sekarang sudah berhadapan dengan Manyar.

“Tidak.”

“Lantas?”

“Aku hanya sekedar melintas di tempat ini. Maaf kalau kehadiranku mengganggu,” kata penunggang kuda itu. Lalu ia menghentak kuda miliknya dan meninggalkan Manyar.

“Tunggu!” teriak Manyar. “Namaku Manyar, boleh aku tahu siapa namamu?” Sayang, penunggang kuda tersebut sudah hilang dari pandangan Manyar. Terlindungi oleh kabut tipis yang masih berada di sekeliling Sungai Impi.

“Wangsa,” tiba-tiba suara itu menyeruak di antara kabut. “Namaku Wangsa Kanaka,” sambungnya lagi sambil tersenyum tipis dan ia pun kembali menghentak kudanya pergi dari tempat itu.

Manyar hanya mengangkat bahunya sendiri mendengar nama itu. Ia kembali melanjutkan lagu-lagunya di sana seperti tidak terjadi apa-apa selain dirinya dan sungai Impi yang ada di sana. Manyar tidak tahu kalau Wangsa Kanaka masih berada di sana terlindungi oleh semak-semak dan kabut tipis. Hanya untuk mendengar Manyar menyanyikan lagunya bersama dengan gemericik sungai Impi. Setelah matahari mulai membakar dan mengusir kabut tipis, ia segera pergi kembali pada kumpulannya di atas bukit.

 

““““

 

Matahari sudah tinggi sekarang. Lorong sepi itu sekarang sudah  terisi jejak baru. Dan pada satu tempat, di kedai milik Inang, orang-orang yang terperangkap dalam badai dan berlindung dalam kedai milik Inang sudah bangkit dari mimpi mereka, mengumpulkan kesadarannya sendiri setelah tuak yang mereka reguk menguasai detak jantung mereka. Di luar Dirun berlari kencang menuju kedai Inang, seseorang memberitahu kalau Jampuk berada di sana. Dirun masih berlari, tidak peduli dengan apa yang dilaluinya, pikirannya hanya tertuju kepada Jampuk dan harus mengabarkan sesuatu kepada Jampuk. Yang ditemukan, Jampuk masih tergeletak di meja kedai dan botol tuak mengelilinginya.

“Jampuk! Jampuk, ayo bangun!” kata Dirun, Jampuk tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Ia hanya memicingkan matanya ketika yang dilihatnya cuma Dirun, Jampuk tidak peduli kedatangan Dirun.

“Kau tidak perlu berteriak, kupingku masih sanggup mendengar kata-katamu,” jawab Jampuk. Mata yang memicing itu dirapatkan kembali. Dirun yang sudah kesal kemudian mengambil air dan mengguyur kepala Jampuk. Jampuk bangun, hampir ia memukul Dirun karena marah oleh kelakuan Dirun.

“Ayo, kau boleh pukul aku sepuasmu, tidak apa-apa bagiku. Tapi sebelum itu aku harus memberitahumu. Kau tidak sepantasnya berlaku seperti itu kepadaku, tapi tidak jadi soal, kau juga tidak pantas disebut anak yang tahu diri dan berbakti kepada ibumu yang juga sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Kau ingin tahu apa yang akan kau dengar dariku, Jampuk? Hah, kau tak sanggup bertanya kepadaku. Kau memang bodoh. Kau tahu, Makmu sekarang sudah tidak ada lagi. Ya, dia sudah meninggal,” kata Dirun dan meninggalkan Jampuk sendiri. Dirun kembali pulang untuk mengurusi jenazah Mak Randa.

“Mak! Apa yang telah aku lakukan. Apa yang telah aku lakukan!” teriak Jampuk histeris. Hampir ia terjatuh kalau tidak ada bangku yang menopang dirinya, ia pasti sudah tergeletak di kedai milik Inang. Inang baru terbangun mendengar teriakan Jampuk. Ketika Inang hendak menghampiri Jampuk, ia sudah berlalu keluar setengah berlari. Jampuk pulang untuk menghadap Mak Randa yang sudah mengatupkan kelopak matanya dan tidak akan pernah dapat terbuka lagi. Jampuk hanya akan mendapati ibunya sudah tidak dapat mengembangkan kedua kelopak matanya. Sekarang ia hanya bersimpuh di pembaringan Mak Randa. Matanya mungkin penuh air mata, tapi itu tidak dapat menebus semua yang pernah dilakukannya. Tidak dapat mengantarkan Mak Randa pergi ke dunia lain, sebuah dunia yang lebih luas lagi dan lebih damai. Jampuk sekarang memandang tubuh tua terbujur kaku.

Sudah saatnya Mak Randa diantarkan kepada pembaringan lain, pembaringan yang lebih sunyi yang belum pernah ia rebahkan. Tidak lagi untuk bermimpi. Tidak lagi ia harus menunggu seperti langkah-langkah yang bertemu pada tanah retak di kampung Suling di mana sungai Impi membelah panjang di antaranya. Angin mungkin akan menyapu debu yang mendekam di bawahnya, menyeret hingga menjauh dari bekas pijakan kaki yang begitu banyak, tapi masih ada yang dapat mengukur kedalamannya. Dan iring-iringan itu membawa harum melati membaur dengan udara panas, dan fatamorgana memberikan cadarnya. Pada sisi bukit yang lebih teduh, iring-iringan itu telah melampaui rasa panas yang membakar, melati yang mengiringi keranda itu pun sudah mulai layu lingkarannya.

“Hari ini ada yang harus meninggalkan tubuhnya pada tanah debu itu,” kata Daeng ketika ia melihat iring-iringan itu lewat pada pandangannya, ia berada pada bukit lain dan masih memandanginya sampai hilang oleh bayangan bukit.

Jampuk tidak kuasa harus menghirup wangi melati yang datang kepadanya, maka ia harus menghentikan tangisnya. Jampuk merasa itu memang sudah takdir dan keharusan untuk meninggalkan apa yang memang sudah harus ditinggalkan. Tidak ada gunanya menangis, meratapi yang sudah seharusnya pergi. Namun ia tidak sanggup, ia hanya mampu menguntit di kejauhan dan melihat dirinya sekarang sudah seorang diri. Tidak ada tempat bergantung selain dirinya, tidak ada yang ia lihat selain langkah kakinya sendiri.

Sekarang tubuh kaku itu telah sampai pada perjalanan lain, sungai Impi. Apa yang ada di muka bumi ini punya perjalanan masing-masing dan kisahnya sendiri. Keranda itu sekarang sudah ada pada aliran sungai Impi untuk melanjutkan perjalanan yang lain. Semua yang ada di sana tidak pernah tahu di mana sungai itu berlabuh, bagi mereka sungai Impi tidak pernah berujung, tidak ada satu mulut muara pun mengakhiri alirannya. Suatu perjalanan adalah suatu perjalanan, ada yang harus berhenti, ada yang terus berlanjut sampai sesuatu dapat menghentikan langkahnya. Dan, kesunyian telah meninggalkan jauh dengan apa yang dikandungnya, ada suatu rahasia masih dipertanyakan sampai ada yang menjawab. Kesunyian telah melampaui kesunyian itu sendiri, pertanyaan yang ditinggalkan akan masih tetap menjadi pertanyaan.

Semua telah berlalu seperti biasanya, orang-orang yang mengantarkan suatu saat akan diantar pula seperti yang telah ia saksikan sekarang, dan akan ada yang menjemputnya. Di pinggiran sungai Impi, tinggal Jampuk masih duduk di sana, tidak peduli apakah matahari akan membakar atau debu akan menopengi dirinya. Tatapan itu terlalu lemah ketika aliran sungai Impi membias pada mata yang menangis.

“Aku telah mendengarnya,” kata seseorang dari belakang Jampuk. Ia masih diam memandang alirang sungai Impi. “Aku turut berduka dengan kepergian ibumu.”

“Terima kasih, Saina,” jawab Jampuk. “Apa yang harus pergi memang sudah seharusnya pergi. Tidak ada yang harus disesali atau ditangisi, biar aku tidak pernah tahu kapan ia meninggalkanku. Tinggal aku sekarang. Aku bisa merelakan tapi aku tidak pernah bisa mengucapkan perpisahan untuk terakhir kalinya. Aku tidak di sana, aku tidak ada. Bisakah kau mengulangi waktu?”

“Tidak ada yang dapat mengulangi waktu, tidak siapa pun di tempat ini. Kalau kau ingin menangis, mengangislah kalau itu bisa menenangkan keperihan yang ada pada dirimu. Menangislah karena rasa bersalah atau karena merasa bersalah, tapi jangan lakukan keduanya. Kau akan merasakan kalau itu sangat melelahkan. Aku memang tidak terlalu mengenalmu seperti orang-orang dari tempat ini. Tapi siapa pun tidak akan membiarkan kau terlalu lama dalam kesedihan. Ada saatnya untuk kembali melanjutkan hidup.”

“Aku tahu yang kulakukan.”

“Aku tidak meragukan tindakanmu. Kesedihan memang dapat menenangkan sejenak untuk kesalahan yang telah dilakukan, tapi tidak ada kesedihan yang masuk akal kalau kau merasakannya terlalu lama,” kata Saina dan ia berlalu dari tempat Jampuk berada. Tinggal Jampuk sendiri di tempat itu. Cahaya matahari mengilat di mata Jampuk.

 

““““

 

Saina masih saja terus berjalan dan tidak dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang diungkapkan olehnya hingga ia berjalan terlalu jauh dari seharusnya. Jejaknya terlalu panjang untuk dititi. Ada pertigaan di depan Saina, ia tidak dapat memilih salah satu jalan, bukan karena takut tersesat atau tidak menemukan jalan kembali. Langkahnya sudah terlalu jauh, tidak ada tujuan di belakang. Dan sekarang ia sampai pada tempat pertama kali ia merendamkan dirinya pada aliran sungai Impi. Tapi sekarang seorang perempuan telah menjelma di sana, ia ingin melepas kerinduannya akan kesegaran sungai Impi menyentuh kulitnya. Terlambat, siapa yang ada di sana telah mengetahui keberadaan Saina dan memandangnya dengan tanda tanya kembali. Apakah ia harus menjawab atau kembali memulangkan pertanyaan itu kepada orang yang memandangnya. Belum dapat dipastikan. Saina malah semakin mendekat pada pinggiran sungai Impi dan pandangannya ditundukkan pada bayangan dirinya sendiri di sana.

“Aku pernah ke tempat sunyi ini untuk merendamkan tubuhku. Tapi sayang, tempat ini terlalu banyak yang mencintainya sehingga tidak ada yang bisa memiliki untuk dirinya,” kata Saina setelah ia membasuh wajahnya di sana.

“Kau benar, sudah sejak lama aku menyukai tempat ini. Tapi kau benar, aku tidak dapat memiliki untuk diriku sendiri, karena itu aku harus membagi dengan siapa saja yang ingin menyatukan kesegaran sungai ini. Kau pun dapat menyatukan kesegaran di sini denganku kalau kau mau. Seperti katamu, kesunyian tempat ini terlalu banyak yang mencintainya.”

“Aku saina, boleh tahu siapa namamu?”

“Manyar, ya, kau boleh memanggilku dengan nama itu,” jawab Manyar yang sejak dari pagi hingga sekarang masih mendiami tempat tersebut.

“Sebenarnya aku rindu tempat ini.”

“Kenapa kau tidak penuhi saja kerinduan itu. Rindumu akan terlalu lama jika kau menundanya,” kata Manyar menyuruh Saina segera bergabung dengannya.

“Baiklah, akan kulakukan.”

Terasa aliran sungai Impi begitu teduh, ada yang menyatukan kesejukan di sana, karena kerinduan dan karena dahaga minta dilepaskan. Ada yang menyatukan dengan perjalanan baru dan mengarungi kesunyian panjang untuk menemukan kesunyian lain lagi. Berpindah dari satu gemericik hingga menyatukannya menjadi sebuah lagu yang hampir tidak dapat dinyanyikan dengan mudah, karena sulitnya kata-kata yang tepat untuk diungkapkan..

Pada sisi lain, ada kumpulan masih mendekam untuk menunggu atau ia harus mencari jawabnya sendiri dengan mengarungi waktunya sendiri. Begitu banyak pertanyaan yang mesti dijawab, sebagian menunggu, sebagian lagi tetap harus pergi, atau tidak seorang pun akan menemukan jawaban. Satu ringkih kuda dibiarkan menghentak kebisuan dan ia harus lari mengikuti tali kekang yang menariknya hingga letih. Langkah cepat itu menghambur dan meninggalkan debu di udara, hingga semakin menjauh.

“Satu telah pergi untuk selamanya dan mengarungi sungai Impi sampai tubuh harus membusuk dan menjadi santapan burung nazar yang mengikuti dari belakang untuk mencuri kesempatan dan satu lagi harus pergi dari kumpulannya dengan menghentak tali kekang sekerasnya hingga satu ringkik tertahan ditenggorokan seekor kuda. Tempat sunyi ini tidak lagi menjadi sunyi ketika banyak orang sudah begitu kehausan mencarinya. Dan ada dua burung yang begitu rindu hingga terlalu lama ia harus merendam tubuhnya di sana. Apa yang terjadi setelah semua ini menjadi saksi,” kata Daeng ketika ia masih berada di sebuah batu di bebukitan paling tinggi dan ia masih mengamati semua yang terjadi di bawah dirinya.

“Kalau kau menjadi saksi, maka kau harus mengatakan semua yang telah kau lihat dan kau saksikan, Daeng,” kata kakek Lampai setelah ia susah payah mengejar tempat Daeng yang berada di atas bebukitan, meski payah mengukur nafasnya, tapi kakek Lampai masih sanggup untuk mengatakan yang satu itu sebelum beristirahat kembali. Daeng menoleh sebentar kepada kakek Lampai lalu kembali menguntit lagi lari penunggang kuda yang menghentak terlalu keras pada kuda yang ditungganginya.

“Mungkin tidak ada yang harus dikatakan, Kek,” kata Daeng setelah kakek Lampai bersandar pada cekungan batu besar dan berlindung dari panas matahari yang terlalu menyengat. “Apa kau memberitahu ibu kalau aku di sini, Kek?” tanya Daeng  lagi, tapi ia tidak menoleh kali ini, matanya masih terlalu tajam untuk menguntit debu terhambur ke udara.

“Untuk apa kuberitahu ibumu. Kau sudah terlalu besar untuk dikhawatirkan.”

“Kadang aku terlalu takut untuk menjadi besar dan dewasa. Aku juga takut kalau itu juga tidak beralasan.”

“Karena kau sudah dewasa, sudah punya pikiran sendiri, lalu mengarungi kehidupan sendiri kelak,” jawab kakek Lampai sambil menerawangkan pikirannya sendiri.

Pada aliran sungai Impi pun, Manyar dan Saina menyudahi dirinya berendam di sana. Semua kembali pada tempatnya masing-masing. Mata yang mengintai itu tak pernah lepas dari obyek yang dipandanginya. Semua mungkin kembali berjalan seperti biasa, waktu tetap berdetak dan jarumnya terlalu tajam untuk disentuh. Manyar kembali pada tempatnya, rumah kayu yang berada di balik bukit dan mendiami kesunyian di sana hingga terlalu lama ia mendekam. Begitu pula dengan Saina, apa yang dilaluinya harus dilanjutkan, ia tidak ingin berhenti sebelum menemukan jawaban, dan ia memang tidak dapat berhenti begitu saja setelah apa yang ia saksikan sampai sekarang.

“Di sinilah kita sekarang,” kata Manyar dan memandang satu sama lain. Keduanya tidak memiliki kehidupan yang berbeda, masih ada yang menggantung antara Manyar dengan Saina.

“Ya, di sinilah akhirnya. Aku harus kembali meneruskan langkah yang telah kutiti. Begitu pula denganmu, kau akan kembali pada kumpulanmu sendiri. Kalau jodoh, di antara kita pasti ada ruang waktu untuk dapat bertemu kembali.”

“Ya, suatu saat nanti.”

“Aku rasa begitu,” kata Saina dan ia kembali meneruskan langkahnya. Pada dasarnya ia tidak tahu kenapa sampai harus bertemu dengan Manyar. Semua terlalu singkat, terlalu sulit untuk diingat. Sekarang ia cuma perlu bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang ditemuinya kelak, di hadapannya, di depan matanya. Satu-satunya jawaban, ia harus terus melangkah untuk tahu semua itu.

 

““““

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: