Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

DIA bag. 2

DIA
Sawaludin Permana
Bagian 2

Musim hujan menjemput. Benih dari rumput-rumput mati mulai menancapkan akarnya ke dalam tanah retak di pinggiran sungai. Tapi entah kenapa tak setetes air pun menjentik meski awan mendung menggelayut sangat berat pada langit. Hanya kilat berkelebat dan guruh menyurati hembusan angin. Awan mendung dalam gumpalan cuma menjadi hiasan pada dinding cakrawala. Kanvas kelam pada sapuan guntur. Rumput-rumput dalam kumpulan menjadi kelompok penuh kegelisahan dan mencakar udara yang mengandung hawa dingin.

Dalam gelombang, dari balik pintu yang berderak, Daeng keluar berlari menuju tempat biasa ia bermain. Berdiri memandang sesuatu yang belum pernah dapat dibayangkan sebelumnya. Daeng merasakan kalau awan-awan itu tengah menari bersama bidadari untuk mencari sebuah keindahan yang ditutup cadar tipis, ia tidak menghiraukan kilat menjulurkan lidahnya dengan gemuruh menggema dan angin menerpa.

“Daeng! Dae..ng!” teriak Dia ketika menyadari kalau Daeng berada di luar dengan langit bergemuruh hebat. Dia menerobos badai itu, wajah sayu menyipit meninggalkan rumah kayu di belakang dengan pintu berderak dan Dia semakin jauh membelah badai. Rambut panjang itu berkelebat,  Dia masih mencari dalam kebimbangan.

Sekali lagi Dia berteriak memanggil anaknya dalam halilintar saling menyambar mengilatkan cahaya biru menggurat langit. Di kesendiriannya, Daeng mendengar samar ibunya memanggil dan melihatnya berjalan seorang diri menembus badai. Susah payah menjejakkan kaki pada tanah yang kacau, langit tengah menunjukkan kekuatannya pada tempat itu. Daeng berlari mendekati ibunya, menuruni tempat di mana ia tengah menyaksikan kekuatan alam yang menariknya untuk ikut menyelami kekuatan bersamanya. Dia segera memeluk Daeng erat ketika Daeng mengembangkan kedua tangannya berharap dekapan itu sedikit lebih lama ia rasakan untuk menghilangkan resahnya pada badai. Badan Daeng sungguh dingin menyentuh kulit Dia. Ia menggendong Daeng, meski tenaganya berkurang tapi dipaksakan juga menembusi badai dan menemukan rumah itu kini berselimut debu. Lelah Dia menapaki anak tangga dengan Daeng dipelukannya. Dia merebahkan tubuh Daeng dan mengoleskan minyak penghangat ke seluruh tubuh Daeng.

“Kenapa kau berlaku seperti itu? Badai akan melumat habis dirimu kalau aku tak lekas menjemputmu,” kata Dia setelah  tubuh Daeng sedikit menghangat dan selimut membalut tubuh Daeng yang kini meringkuk pada bale-bale. “Minumlah air hangat ini, baik untuk tubuhmu yang pucat,” sambungnya lagi setelah Dia berlalu dari belakang dan kembali dengan segelas air hangat, menyodorkannya kepada Daeng.

“Terima kasih, Bu,” jawab Daeng dan bangkit meraih gelas yang disodorkan ibunya. Daeng tidak menjawab pertanyaan Dia. Daeng hanya memangku air hangat itu dan menundukkan wajahnya, bias dari raut muka Daeng terlihat pada lingkaran gelas yang dipegangnya, yang ia lihat dirinya semakin pucat di sana. Sementara angin menembusi bilah-bilah kayu, Daeng terbuai dalam lamunannya, ruang dalam rumah itu semakin diliputi hawa dingin.

Dia duduk pada bangku yang bersebrangan dengan Daeng, terpaku memandang dirinya, gemulai tangan kurus milik Dia mengikat sulaman-sulaman benang saling menjuntai dan dengan teliti Dia memilah dengan jarum sulam, mengikatnya menjadi erat membentuk warna lembayung. Daeng kembali merebahkan diri tapi matanya lurus terjaga, masih ia pandangi ibunya, Dia yang membuat tangannya menari pada sulaman yang belum selesai.

“Bu,” panggil Daeng pelan, membuat Dia menghentikan sulamannya kemudian matanya menjurus ke arah Daeng, ia melihat Daeng masih terbaring pada tempatnya.

“Ya,” akhirnya Dia menjawab panggilan Daeng setelah ia diam.

“Apa yang terjadi seandainya ibu tidak menjemput Daeng di luar sana?”

“Apa yang membuatmu berkata seperti itu?”

“Daeng cuma ingin tahu, pada saat itu Daeng melihat sesuatu yang belum pernah Daeng lihat. Sesuatu yang membuat Daeng tertarik untuk segera berlari ke arahnya. Cahaya yang berkelabat di langit, benar-benar indah.”

“Kau akan tersambar olehnya seandainya saja ibu tidak menjemputmu. Berapa kali ibu mesti berkata kepadamu, Daeng, kalau kau harus terlebih dahulu berpikir apakah itu baik atau tidak sebelum kau melakukannya. Kau hampir beku di luar sana dan entah apa yang akan terjadi kalau ibu tidak segera membawamu pulang untuk menghangatkan tubuhmu.”

“Apakah itu salah?”

“Tentang apa?”

“Sesuatu yang membuat kita ingin tahu, lalu tanpa banyak berpikir kita menghampirinya tanpa pernah tahu apakah itu akan berakibat baik atau buruk terhadap kita, Bu?”

“Salah benar tidak, Daeng. Sebenarnya rasa ingin tahu yang sangat itu baik, tapi kita juga harus tahu kapan kita harus bertindak dan kapan harus tidak.”

“Daeng mengerti, Daeng tidak akan mengulanginya kembali. Daeng janji.”

“Baiklah, ibu maafkan. Asal perkataanmu itu jangan sampai terlanggar lagi,” kata Dia dan melanjutkan kembali sulamannya yang tertunda, sementara Daeng masih menyenangi memandang Dia dalam diamnya sambil menyulam.

““““

Menjelang sore badai belum juga reda. Sesosok perempuan berjuang dalam gemuruh, gontai melawan angin untuk mejejakkan langkahnya mencari tempat berlindung, untuk menyandarkan punggung yang membungkuk lelah setelah sekian lama terombang-ambing badai debu dan langit mengelam menutup sinaran dan bertanya dalam hati kenapa matahari menyembunyikan dirinya dalam selubung kelam yang dingin. Ia masih berjalan menuruni bukit di mana sebuah rumah kecil bertahan dalam amukan badai. Wajahnya lusuh dan sebagian debu menempel padanya. Baju yang menjuntai berkelebat mengikuti aliran angin, melambai pada kekosongan dan ia melawan dalam waktu yang sempit.

Pada pintu terkunci, perempuan itu berdiri. Tubuhnya menggigil hebat. Tiga kali pintu itu diketuknya ragu. Dia yang mendengar suara ketukan segera menghentikan sulamannya, diletakkan pada bangku kayu dan meninggalkannya tergeletak begitu saja. Daeng juga bangun dari tempatnya merebah, bersila pada bale-bale dan matanya mengikuti langkah ibunya ke arah pintu. Suara gemeletak palang pintu terangkat, ketika daun pintu terbuka angin segera menyeruak menampar apa pun yang menghalang haluannya dan membuat rambut Dia terlepas dari ikatan yang terkuncir satu. Dia melihat seorang perempuan berdiri di hadapannya kini. Tapi tiba-tiba angin mendorong tubuh lemah itu ke diri Dia.

Dia memapah masuk perempuan itu dan kembali menaruh palang pintu pada tempatnya semula. Daeng menggeser dirinya membagi tempat kepada perempuan yang tengah dipapah Dia, Daeng tidak bicara apa-apa, hanya menuruti perintah ibunya mengambilkan air hangat pada tungku di belakang dan menaruhnya pada bejana. Daeng memberikan bejana itu kepada Dia dan langsung menaruh selembar kain, mengelap kening perempuan yang kini berbaring pada bale-bale. Wajah dingin dan membeku itu kembali hangat setelah Dia membersihkannya. Perempuan itu tersadar.

“Terima kasih,” kata perempuan itu pelan dan berusaha bangkit dari pembaringannya. Namun payah ia berusaha, tubuhnya terlalu lemah digunakan.

“Jangan dipaksakan. Lebih baik baringkan dahulu barang sebentar. Namaku Dia, Kau siapa?”

“Manyar, namaku Manyar.”

“Kenapa pada badai seperti ini kau masih berada di luar sana. Bukankah kau seharusnya mencari tempat berlindung?”

“Aku memang tengah mencari tempat berlindung. Padang itu terlalu luas untuk kutempuh sementara tubuhku semakin lemah. Tapi sekarang aku menemukan tempat berlindung.”

“Kau beruntung bisa sampai ke tempat ini. Kau boleh berlindung di tempat ini sesuka hatimu, selama kau mau tinggal di tempat ini.”

“Sekali lagi terima kasih.”

“Tak perlu demikian. Tampaknya kau habis menempuh perjalanan jauh. Apakah ada tempat yang ingin kau tuju barangkali?”

“Ya, kau benar. Aku memang tengah mengarungi perjalanan yang jauh. Tapi aku tidak punya tempat yang ingin kutuju. Aku hanya ingin berjalan sesuka hatiku, aku tidak punya tempat untuk berhenti.”

“Dari mana tempatmu berasal?” tanya Daeng yang sejak tadi mendengarkan mereka berdua bicara dari sebuah tiang penyangga yang ia sandarkan.

“Siapa anak kecil itu?”

“Dia anakku. Namanya Daeng.”

“Aku tidak punya tempat asal, aku tidak tahu pasti di mana tempatku bermula. Aku tinggalkan sebuah tempat untuk berlalu ke tempat yang lain lagi. Begitu seterusnya.”

“Sampai kapan?”

“Mungkin sampai sesuatu membuatku berhenti melangkah,” jawab Manyar, perempuan yang tampak sebaya dengan Dia. Dia cuma menggeleng-gelengkan kepalanya pelan mendengarkan Daeng yang selalu penuh rasa ingin tahu.

“Dulu aku juga sama denganmu, Manyar. Aku pergi meninggalkan sesuatu tanpa pernah tahu jawabannya. Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum bisa menjawab, tapi biarlah waktu saja yang memberitahu kelak. Dan, di sinilah aku sekarang bersama anakku,” kenang Dia lalu bangkit dari duduknya di pinggir bale-bale kembali menuju bangku tempat sulamannya tergeletak.

Manyar berdiri, melangkahkan kakinya yang masih lemah menuju ke arah jendela, membukanya sedikit, ia mengintip dari balik celah, badai masih berhembus meski malam telah merangkak pada langit. Angin yang menerobos lewat celah itu seakan menampar wajah Manyar, garis kasar yang mulai mencengkram wajahnya terlihat menggurat, mata sayu itu masih menembusi kegelapan. Ia tidak ingin beranjak dari celah jendela ketika tirai yang menggantung lusuh meningkahi pandangannya yang meredup. Apa sekiranya yang terjadi saat malam menyelimuti punggung bukit itu. Dan pada keliman selimut mega, rumah kayu yang berada di bawahnya mengerjapkan lampu minyak pada bayang berkelebat.

Mungkin tak ada yang mau peduli, sebuah kesakitan yang bersemayam dalam jiwa, berkelana mencari sesuatu hingga akhir sebuah pengembaraan, tersadar tak ada ujung pada apa yang telah ditempuh sekian lamanya dan letih menghitung hari demi harinya. Kini Manyar hanya diam mematung, meski ruangan itu hangat hatinya terasa beku. Garis bibirnya telah mengering, tak ada satu senyum pun tertoreh. Tapi tiba-tiba bibir itu bergetar hebat, ia menahan apa yang dikandung hatinya dan bongkahan bening di sudut matanya turun perlahan melewati cekungan pipinya sebelum akhirnya ia jatuh pada waktu yang tak berbatas. Jejak air mata itu seakan mencoba menuliskan serpihan sejarah hidup Manyar pada kertas tak berbingkai. Ada sesuatu tak terurai pada diamnya.

“Apa yang sedang kau tangisi?” tanya Daeng, membuat Manyar segera tersadar dan mengusap air matanya, merapatkan kembali jendela kemudian dipaksakan menarik garis bibirnya meski masih jelas lekukan senyum itu bergetar, dan ia memang tak dapat berbohong untuk menutupinya.

“Aku tidak sedang menangis. Tidak, tidak,  aku tidak menangis,” Manyar segera menjauh dari jendela dan duduk kembali pada bale-bale. Melihat pada bangku kayu, tidak ditemukan Dia duduk di sana. Manyar bangkit lagi dan mendekati bangku yang tergeletak sebuah sulaman panjang yang belum selesai. Benang-benang aneka warna dari kain sulaman itu menggantung panjang hampir mencium pada lantai kayu.

Dia muncul dari pintu belakang sambil membawa sepiring kentang rebus, ia berhenti sejenak melihat Manyar tengah memperhatikan sulamannya. “Aku tidak tahu apakah sulaman itu akan terselesaikan atau tidak,” kata Dia dan melanjutkan langkahnya, meletakkan piring itu pada meja yang terletak di tengah ruangan. Meja kecil dengan tiga buah bangku mengelilinginya. Aneh, sepertinya bangku itu memang tengah menanti seseorang dan sekarang ketiga bangku itu sudah terisi semuanya, batin Dia. Ada sebuah kendi air dari tanah liat, gelas dan piring yang terbuat dari kaleng. “Makanlah, hanya ini yang kami miliki,” lanjut Dia dan duduk pada bangku di salah satu sisi meja, mengambil satu piring dan diberikan kepada Manyar, Manyar hanya meletakkan piring tersebut dihadapannya.

“Aku berhutang banyak padamu hanya dalam beberapa saat saja,” kata Manyar setelah beberapa saat ia tertunduk.

“Dengarlah, kau tidak berhutang satu apapun kepadaku, ingat itu. Sudah sepantasnya kita saling menolong, terlebih pada saat-saat tersulit seperti ini. Padang tandus ini memang terlalu memberi sedikit kepada kita. Tapi semestinya kita bersyukur. Aku bersyukur kalau ternyata di padang gersang ini masih ada yang dapat kita lakukan, meski sekedar untuk bertahan. Sekali lagi aku tegaskan, kau tidak berhutang kepadaku dan kau memang tidak perlu berhutang. Karena berhutang, satu saat kau harus membayar. Tapi kepadaku kau tidak perlu membayar sepeser pun padaku, tidak satu sen pun. Camkan itu,” kata Dia dan menyodorkan kentang hangat itu kepada Manyar.

“Terima kasih kau mau berbuat baik kepadaku.”

“Daeng, makanlah.”

“Baik, Bu.”

“Ambil piringmu,” kata Dia lagi dan menyodorkan kentang hangat yang tinggal beberapa buah lagi. “Tambah?” tanya Dia. Manyar mengelengkan kepala. “Kalau begitu habiskan saja,” sambung Dia dan menyodorkan kentang itu kepada Daeng.

“Apa ini rumah milikmu, Dia?” tanya Manyar.

“Bukan milikku. Aku menyewanya dari penduduk kampung yang berada di balik bukit. Inang, seorang pemilik kedai di alun-alun desa. Aku menyewanya sejak pertama kali datang ke tempat ini.”

“Sudah berapa lama kau tingggal?”

“Aku tidak menghitung.”

“Kau punya suami?” tanya Manyar setelah mereka selesai makan. Dia hanya menarik nafas panjang, kembali duduk dan melanjutkan sulamannya. Tapi tidak jadi. Dia menundukkan kepalanya sejenak, tidak tahu harus menjawab apa atau ia tidak harus menjawabnya. Tapi ia melihat Manyar yang duduk pada bale-bale masih menatapya, matanya seakan menunggu jawaban.

“Entahlah,” jawab Dia pelan seakan ia menyembunyikan sesuatu dibalik dirinya. Dia tidak ingin mengulang kembali dengan menceritakan kisah hidupnya dimasa lalu.

“Daeng?” tanya Manyar kembali, tapi Dia seakan larut dalam dirinya sendiri, hampir samar terdengar Manyar bicara.

“Apa?” tanya Dia pelan.

“Daeng, pasti dia memiliki seorang ayah. Tak mungkin kan seorang anak tidak memiliki ayah,” ulang Manyar. Raut wajahnya mengisyaratkan kepada diri Daeng yang sekarang tengah bermain di lantai, seekor kuda kayu bersayap terpegang di tangan Daeng dan menghayalkan kuda itu terbang dan lepas dari genggamannya. Manyar tersenyum kecil memperhatikan Daeng, tapi tidak dengan Dia. Dia memandang Daeng begitu lekat seakan hampir tidak ada batas dengan dirinya sendiri.

“Daeng memang pernah memiliki seorang ayah.”

“Apa maksudmu dengan ‘pernah’?”

“Ya, memang pernah. Tapi tidak lagi sejak aku membesarkannya seorang diri hingga saat ini.”

“Kapan itu?”

“Semenjak aku  sadar kalau cuma Daeng yang kumiliki. Daeng saat itu masih sangat kecil sekali, ia seorang bayi yang mungil dan lucu. Bagiku ia seorang malaikat yang menjelma untuk mengisi sisa hidupku yang kosong. Untuk itu aku pergi dari tempatku, berkelana sejauh mungkin yang aku bisa. Beberapa kali aku singgahi tempat-tempat yang menurutku bisa untuk melupakan dan juga untuk bertahan hidup. Nyatanya aku selalu pergi. Kasihan Daeng, ia harus mengalami hal itu. Sudahlah, aku tidak mau menceritakan dari mana aku berasal dan kenapa aku pergi. Setidaknya aku sudah berada di tempat ini dan berhadap-hadapan dengan kau.”

”Aku juga tahu bagaimana rasanya.”

“Apa kau juga pernah memiliki seorang suami?”

“Aku? Siapa yang mau denganku. Tidak, aku belum pernah menikah, setidaknya hingga hari ini.” Jawab Manyar sambil tertawa kecil.

“Dunia memang aneh.”

“Apa maksudmu?”

“ Aku menyenangi tempat ini, bahkan aku bermimpi untuk memilikinya suatu saat nanti.”

“Apa kau tidak ingin pergi lagi?”

“Aku sudah terlalu lelah untuk melakukannya lagi dan aku juga  tidak ingin lari dari kehidupan, sudah saatnya untuk melawan kehidupan itu sendiri sekaligus aku ingin melihat Daeng tumbuh menjadi seorang pria gagah dan tampan, di mana aku dapat menyandarkan diriku pada pundaknya suatu saat nanti.”

“Kelak kau akan melihatnya tumbuh dewasa. Jangan bangkitkan hal-hal yang tidak ingin kau kehendaki, mungkin saja itu akan menjadi kenyataan. Lebih baik kau berpikir dan berkata yang baik-baik saja tentang hidupmu.”

“Bicara itu mudah, Manyar, kadang terlalu banyak keinginkan tapi sulit untuk meraihnya ke dalam genggaman, sebaliknya, kadang apa yang kita dapat belum tentu kita inginkan.”

“Badai belum reda, mungkin menjelang pagi badai ini akan berhenti,” kata Manyar ketika bangkit dari bale-bale dan mendekati bilah jendela, ia mengintip dari lubang kecil yang ada pada daun jendela itu.

“Mungkin saja, tapi aku pernah melewati badai seperti itu,” kata Dia sambil meneruskan sulamannya. Manyar cuma mengernyitkan dahinya saja, tapi ia tidak ingin menanyakan hal itu kepada Dia.

“Hari semakin larut,” lanjut Manyar lagi.

“Benar. Daeng, tidurlah. Hentikan main-mainmu,” suruh Dia, Daeng menuruti kata-kata Dia tanpa banyak bicara, menaruh kuda kayu miliknya di atas meja di mana Manyar juga duduk di sana. Daeng tidur pada bale-bale kayu yang menghadap ke dinding. Manyar meraih mainan kayu yang Daeng tinggalkan di meja, ia memutar-mutarnya seakan ingin merasakan apa yang dirasakan oleh Daeng saat ia memainkan mainan itu. Kuda kayu bersayap itu masih tergenggam di tangan Manyar.

Dia menyudahi sejenak sulamannya, mengambil selimut dan tilaman di pojok bale-bale. Tampak sekejap saja Daeng sudah terlelap dalam buaian mimpi-mimpi, Dia menyelimuti Daeng yang meringkuk kedinginan dan mengambil selimut serta tilaman lalu memberikannya kepada Manyar.

“Pakailah ini kalau kau mau tidur. Kau bisa gunakan bale kecil itu,” kata Dia dan menunjukkan sebuah bale kayu kecil dekat bale-bale di mana Daeng tertidur.

“Baiklah,” jawab Manyar serta meraih selimut yang diberikan Dia. “Tapi aku belum mau tidur,” sambungnya lagi kepada Dia yang kini telah meneruskan kembali sulamannya.

“Hah, aku juga belum mau tidur,” kata Dia sambil menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara semakin dingin melingkungi mereka hingga membuat Manyar membungkus dirinya dengan selimut tebal.

“Apa kau tidak merasa dingin?” tanya Manyar setelah ia membungkus dirinya dengan selimut.

“Tidak terlalu,” jawab Dia tapi lekukan tangannya pun sudah mengkerut kedinginan sampai bergetar tangannya menyulam kain yang dipegangnya itu. Mungkin Manyar benar, udara semakin dingin maka Dia menghempaskan sulaman itu kepangkuannya, membalut dirinya pada kain yang terlipat di sandaran bangku kayu yang ia duduki.

“Kau tidak percaya apa yang kukatakan,” kata Manyar melihat Dia membungkus dirinya dengan selimut, tapi Dia tidak menghiraukan perkataan Manyar, Dia terus mengembangkan selimut itu untuk membungkus dirinya semakin erat. Tampaknya selimut itu tak mampu menghalau dingin yang dirasakan Dia.

“Manyar.”

“Ya.”

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?”

‘Tanyakan saja, aku akan menjawab kalau aku bisa.”

“Apa kau pernah merasa kehilangan? Maksudku, kita telah begitu jauh menempuh kehidupan sampai-sampai kita tidak tahu lagi apa yang kita ingini atau kita rasakan. Pada saat itu pernahkah kau merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirimu?”

“Ya, kita memang telah sangat jauh berjalan mengarungi kehidupan kita masing-masing, Dia. Tapi seakan aku menyia-nyiakan nafas yang keluar dari paru-paruku sendiri sama seperti aku menyia-nyiakan waktu. Mungkin aku kehilangan terlalu banyak waktu hingga saat aku sampai pada diriku yang sekarang ini aku bukan siapa-siapa. Aku merasa itulah kehilangan yang terbesar dan aku hanyalah aku sekarang di mana waktu telah melumatkanku hidup-hidup.”

“Menyesalkah kamu?”

“Menjalani hidup seperti kiambang?”

“Mungkin.”

“Menyesal bukan satu-satunya jalan. Bukannya aku tidak pernah menyesali sesuatu tapi tetap saja itu bukan jalan terbaik untuk menyesal.”

“Benar, hidup kita serupa, nasib kita sama. Di mana pun aku berdiri aku selalu mencoba tegar dan tidak goyah, meski gemuruh menampar diriku, sebisa mungkin aku mencoba untuk tetap tersenyum, apa pun yang terjadi.

“Apa pun yang terjadi kau tetap kau dan aku tetap saja aku. Tidak ada yang berubah.”

‘Suatu saat kau pasti berubah, bila kau masih menemui waktu, ketika itu mungkin kau bukan lagi kau yang sekarang.”

“Andai saja begitu.”

“Banyak ‘aku’ yang mendekam dalam diri kita. Pasti kita akan memilih ‘aku’ yang terbaik yang ada dalam diri kita. Meski kita menemui bukan yang terbaik, setidaknya masih banyak ‘aku-aku’ yang baik di dalam diri kita ini. Aku masih mencarinya hingga saat ini.”

“Kau sudah menemukannya?”

“Sayangnya belum. Tapi suatu saat mungkin.”

“Semoga kau menemukannya.”

“Kau juga, Manyar.”

“Nyatanya tidak begitu.”

“Kenapa?”

“Sekian kali aku menempuh hidup berusaha menjadi orang baik, sekian kali aku menemui banyak benturan kebaikan itu sendiri. Terlalu banyak ketidakbaikan di dunia ini. Dan kita selalu saja ditinggalkan segala kumpulan.”

“Kau hanya menyalahi diri sendiri.”

“Lantas, kenapa kau sendiri tinggal pada tempat sunyi ini, tempat yang sungguh kau menyenanginya.”

“Aku memang menyukainya tapi aku tidak mempedulikan apakah aku ditinggalkan segala kumpulan atau tidak. Menjadi orang baik tidak perlu harus diakui banyak orang, bagi diri sendiri itu sudah cukup buatku.”

“Kau meniadakan keberadaanmu.”

“Kau salah, keberadaan kita adalah adanya diri kita.”

“Adanya kita juga beradanya orang lain dan kita tidak menyangkal hal itu. Kau mungkin berkata seperti itu mungkin kau telah banyak dikecewakan oleh orang lain, Dia. Siapa pun kita, kita pasti akan membutuhkan orang lain untuk mengakui keberadaan diri kita. Aku mungkin memang bukan orang baik, namun biar bagaimana pun aku tetap membutuhkan orang lain seperti saat sekarang. Aku butuh pertolonganmu untuk selamat dari amukan badai dan aku berterima kasih akan hal itu dan itu membuat keberadaanmu diakui olehku.”

“Kalau aku membutuhkan orang lain, untuk sementara, Daeng sendiri sudah cukup menghibur hatiku. Anakku sendiri.”

“Baiklah kalau itu keinginanmu aku tidak dapat memaksakan kehendak. Aku ingin tidur sekarang. Tidurlah, Dia, hari telah larut,” kata Manyar mengakhiri dan ia berdiri dari tempatnya menuju pembaringannya, sebuah bale kecil yang merapat ke dinding.

“Aku belum ingin memejamkan mataku. Mungkin aku akan meneruskan sulaman ini,” jawab Dia lalu mengangkat kembali kain sulaman itu.

Di bale itu Manyar tengah merapikan pembaringannya sebelum akhirnya ia pun merebahkan diri yang semakin lemah setelah berapa lama tadi ia berjalan menembus dinding badai yang mengamuk. Sungai mimpi seakan membawanya berlayar, sama dengan Daeng yang telah lebih dahulu mengayuh perahunya sendiri dengan tubuh yang meringkuk.

““““

Di beranda depan, lampu minyak yang menempel pada dinding kayu itu telah padam. Gelap menyelimuti dengan udara yang terus menghembus. Serpihan debu menyerak terbawa angin yang mengandungnya, keheningan hanya menyuarakan desahan udara yang terus saja meniup dan menyapu segala ranting-ranting, gugur, jatuh dan terbawa. Menjengkali setiap kehampaan yang dilalui olehnya. Pada dinding kabut, purnama enggan menampakkan wajah lembut, ia bersembunyi dengan cadar tipis penuh guratan pada pohon-pohon mati. Batang besar seperti jari dari tangan yang mencakar langit kelam, berusaha merobeknya.

Mimpi-mimpi berkelana dalam pikiran lelap, dalam alunan denting dawai malam, meski malam dirundung gelisah tak tentu, kata-kata hilang dengan sekali hembusan nafas, digantikan dengan jiwa-jiwa yang lepas dari tubuhnya sendiri. Mengembara dalam kegelapan mencari setitik cahaya yang akan membebaskannya dari rantai terikat kencang. Gelap malam masih menyembunyikannya dengan selubung awan mendung. Dalam mana bintang-bintang pun tak dapat mengelipkan cahayanya yang biru menyala, hilangnya arah penunjuk di tengah gelombang badai, tak ada tempat berlindung, begitu luas untuk ditaklukkan.

Hingga puncak kelelahannya, Dia menghempaskan begitu saja kain sulaman itu, tangannya telah membeku sehingga terasa sulit sekali ia menggerakkannya. Wajah yang mengendur itu ditundukkan hingga ia melihat sulur-sulur urat nadi memenuhi sebagian lengannya, seakan darah terlihat jelas mengalir di tangan Dia, begitu jelasnya ia seperti melihat kalau dirinya yang membanjiri urat nadinya, berdenyut pelan hingga detak jantung memompa dengan kencang menggetarkan seluruh lorong jiwanya yang sunyi dan ia berada dalam salah satu sudut dirinya. Menemukan dirinya telah terlalu lama berdiri di sana tanpa seorang pun ada di sisinya, ia sendirian di tempat itu.

Dia memang sendirian sekarang, menyandarkan tubuhnya pada bangku, melayangkan pikiran dan jiwanya yang entah akan pergi ke mana, yang perlu ia lakukan hanya menutup mata dan membiarkan dirinya melayang mencari tempat berlindung sebentar sampai matahari pagi menerpa wajah. Untuk tiba saat kembali melepaskan selimut, kembali menatap kehidupan dengan senyum yang tak perlu dipaksa tanpa memicingkan mata, dan pada saatnya menapakkan kaki sedikit lebih maju dan berani, tak perlu lagi takut untuk melihat mana ilusi mana yang nyata, karena keduanya memiliki batas sehelai rambut saja. Keduanya saling mengikat.

“Oh!” tiba-tiba Dia tersentak, tak sadar ia telah tertidur di bangku semalaman dan di depannya Manyar duduk berhadapan dengan Dia dan tersenyum melihat Dia telah bangun.

“Sudah pagi,” kata Manyar kepada Dia yang sedang mengusap kedua matanya.

“Benar, sudah pagi. Tak terasa semalaman tadi aku tertidur di sini,” sambut Dia lalu melepaskan selimut yang membungkus dirinya, beranjak bangun untuk merapikan selimut itu ke tempatnya. Daeng juga baru terbangun ketika Dia hendak menaruh selimut dekat diri Daeng di bale-bale.

“Bangunlah,” kata Dia.

“Badai telah pergi,” kata Manyar lagi lalu ia membuka palang kayu yang mengunci jendela, menyibak tirainya. Cahaya matahari segera menerobos ruangan itu di mana hawa dingin masih berdiam di sana, menggantinya dengan kehangatan cahaya pagi.

“Aku rasa begitu,” jawab Dia setelah ia melihat ke arah jendela yang dibuka Manyar dan ia berlalu ke belakang.

“Apa di tempat ini terdapat sungai atau sesuatu untuk membersihkan diri?” tanya Manyar.

“Ada.,” jawab Dia samar dari arah dapur.

“Di mana?”

“Ada sebuah sungai  dari balik bukit di luar sana. Kalau kau mau, nanti  kita sama-sama pergi ke tempat itu.”

“Baiklah. Tapi lekas.”

‘Daeng juga ingin ke sana,” kata Daeng dan ia segera  turun dari pembaringannya.

“Benar?”

“Ya.”

“Kalau begitu suruh ibumu lekas, karena tampaknya kita sudah tidak sabar untuk pergi ke sana.”

“Baiklah, akan Daeng suruh ibu lekas-lekas.”

“Anak pintar,” kata Manyar melihat Daeng berlalu ke belakang untuk segera mengajak ibunya lekas menuju sungai.

Tak berapa lama, Dia dan Daeng keluar dari belakang, Dia membawa kendi kosong sambil diikuti Daeng dari belakang.

“Lekaslah, aku sudah tidak sabar untuk membersihkan badan.”

“Ya, ya, kita akan segera ke sana,” jawab Dia dan kemudian Dia berlalu ke luar. Daeng kembali masuk ketika baru beberapa langkah di depan pintu, ia lupa mengambil mainannya yang diletakkan di atas meja dan lekas beranjak pergi menyusul ibunya dan Manyar yang sudah turun dari beranda.

“Ah, sepertinya aku tidak pernah sebaik seperti sekarang ini,” kata Manyar sambi terus mengikuti Dia dan tanah yang dipijaknya mulai meninggi. Mendaki bukit kecil yang dibawanya terdapat sungai Impi.

Setelah di atas bukit tampak sungai Impi membentang panjang, airnya bekerlipan terkena sinar matahari pagi. Namun bekas badai semalam masih tersisa, gundukan pasir dan ranting terserak sepanjang jalan menuju sungai. Burung-burung kecil juga telah keluar dari persembunyiannya, kembali berkumpul setelah terpisah dari kelompoknya, terbang melintasi horison kuning keemasan. Sayap-sayap merentang mengikuti hembusan angin dan meliuk tajam pada tanah di kaki bukit, berkumpul pada ilalang dan air yang menjanjikan kesegaran. Setitik embun masih menempel di sana.

Mereka telah menuruni bukit itu dan tak berapa lama telah sampai di pinggiran sungai, kejernihannya masih tampak seperti biasanya hingga mengundang Daeng turun dan merendam dirinya di sana, bermain seorang diri dengan kesenangan seorang bocah laki-laki di mana alam menerimanya dengan tangan terkembang. Manyar melepas bajunya dan meninggikan kain hingga setinggi dada dan diikatkan begitu saja, ia pun segera ikut merendam dirinya tidak jauh dari Daeng. Sementara Dia hanya membasuh mukanya pada batu besar di pinggiran sungai yang tidak terlalu dalam, dan kemudian mengisi tempat air itu hingga penuh lalu menaruhnya pada tempat yang cukup datar.

“Kau tidak ikut berendam, Dia?” tanya Manyar.

“Nanti saja.”

“Ayolah, jangan kau tahan tubuhmu. Bukankah air di tempat ini sungguh menyegarkan?”

“Benar, tapi aku belum ingin.”

“Terserah kau sajalah, sebentar lagi hari akan meninggi dan kau pasti tidak ingin tertinggal oleh air yang masih sejuk ini, bukan?”

“Ya, baiklah, kalau kau memaksa. Lagi pula tidak ada salahnya,” kata Dia dan mulai melangkahkan kakinya, dirasakan sedikit dengan menyentuh ujung jari kaki sebelum akhirnya ia memberanikan diri melangkah lebih dalam lagi lalu merendam sebagian tubuhnya hingga sedada.

“Nah, sekarang kau telah merasakan kesegaran pagi yang cerah,” kata Manyar sambil tersenyum. Dia membalas senyuman Manyar sekedarnya saja lalu membasuh kembali wajahnya beberapa kali, sebagian dari ujung rambutnya yang hitam terkuncir itu sedikit basah dan meneteskan butiran air yang jernih.

“Alam sungguh berbaik hari kepada kita hari ini, Dia, dengan mengalirkan sungainya hingga kita dapat menikmati kesegaran pagi ini,” kata Manyar membuka pembicaraan.

“Ya, alam memang banyak memberikan dirinya untuk kita, tapi sedikit sekali yang sadar akan hal itu.”

“Aku telah banyak melewati masa di mana bunga-bunga merekah pada tiap musim hujan. Tapi kenapa tak kulihat bunga-bunga mekar di tempat ini. Bahkan tak sekuncup pun terlihat. Hanya ranting kering dan pohon-pohon yang telah lama mati.”

“Entah, aku juga tidak tahu. Musim hujan di sini sama seperti musim kemarau dan musim kemarau akan layaknya seperti musim kemarau. Tapi sungai ini tidak pernah surut airnya, aku rasa.”

“Ilalang di seberang sana?” tunjuk Manyar ke sekumpulan ilalang yang tumbuh di pinggiran sungai dan di sebelahnya sebatang kayu dari pohon yang telah mati melintang hingga dahannya tenggelam.

“Ilalang itu pun  sama seperti saat sekarang kau melihatnya sejak aku pertama kali  ke tempat ini, sekumpulan kecil yang kesepian. Karena itu burung-burung kecil menemaninya setiap singgah ke tempat ini, meski cuma sebentar ia hinggap.”

“Aku rasa ia tidak kesepian.”

“Kenapa?”

“Burung-burung telah menjadi temannya, meski tak lama, lalu terbang kembali. Ia tidak akan pernah kesepian.”

“Apa yang membuatnya seperti itu?”

“Masa kau tidak mengetahuinya,” kata Manyar sambil tersenyum, membuat Dia mengerutkan kening hingga guratan wajahnya semakin jelas terlukis. “Dengarlah,” sambung Manyar.

“Aku mendengarkan,” kata Dia dan memasang telinganya semakin tajam. “Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Persis! Itu yang kumaksud.”

“Apa yang kau maksud?”

“Hening, hening, Dia. Tidak ada apa pun. Hanya suara desir angin, suara riak air. Tidakkah itu indah? Ayolah, kau pasti merasakannya dan ilalang itu tidak akan pernah merasa kesepian. Ia akan selalu mendengarkan suara-suara itu, alam tengah menyanyi di sini setiap saat, setiap hari, kapan pun yang ia mau ia akan terus mengalunkan suaranya yang terindah yang dimilikinya dan tak akan pernah ada yang menyamai alam yang sedang menyanyi ini,” jelas Manyar.

“Tidak ada yang bisa menyamai alam.”

“Tidak sekali pun, meski alam menerima siapa saja yang datang menyelaminya.”

“Siapa saja?”

“Kita pun kini sedang menyalaminya dan kau lihat Daeng pun sangat senang bercanda dengan sungai ini, dengan tempat ini, udara ini. Ah, semua sungguh damai. Jarang aku menemukan kedamaian seperti ini, biarpun aku singgah di banyak tempat.”

“Apa banyak tempat yang bisa kita temui kalau saja kita terus berjalan, selain di tempat ini?” tanya Daeng tiba-tiba, ternyata Daeng juga mendengar mereka bicara dan menghentikan bermain sebentar demi rasa ingin tahunya. Tampak kuda mainannya digenggam erat pada tangan kirinya.

“Sungguh banyak tempat yang dapat kita temui, Daeng, sungguh banyak sekali sampai kita tidak tahu lagi di mana kita berada dan ke mana lagi kita akan melangkah. Tempat ini hanya sebagian kecil saja, tapi, biar begitu aku sungguh sangat menyenanginya,” jawab Manyar.

“Kau menyenangi tempat kami?” tanya Daeng lagi.

“Ya, aku sungguh suka tempat ini. Tempatmu, Daeng.”

“Aku senang mendengarnya,” kata Daeng lagi dan ia pun meneruskan mainnya.

“Kau beruntung memiliki Daeng.”

“Kenapa?”

“Ia pintar, ia akan menjadi seorang pria gagah nantinya.”

“Semoga saja apa yang kau katakan itu benar.”

“Apa kau pernah berpikir untuk menikah kembali, memberikan seorang ayah kepada Daeng?”

“Tidak pernah. Kau sendiri?”

“Bukankah kita pernah membicarakannya.”

“Benar sekali. Padahal kau baru kukenal hanya semalam saja tapi rasanya kita telah lama saling kenal, banyak sudah soal kita bicarakan, banyak yang kita ungkap hanya dalam sekejap saja.”

“Aku juga merasakan hal yang sama.”

“Hari telah siang. Sudah cukup kita berada di sini,” kata Dia mengingatkan.

“Baiklah, aku sudah selesai.”

“Daeng, lekas bersihkan dirimu, kita akan pulang,” panggil Dia hingga Daeng bersicepat memberihkan diri dan menyudahi mainnya. Bergegas pergi dari sungai sementara dia sudah merapikan dirinya dan bersiap pergi, Manyar baru mengenakan pakaiannya.

“Daeng, ayo lekas,” kata Manyar dan menyambut tangan Daeng untuk segera menariknya dari sungai.

Matahari telah meninggi, sedikit lebih condong ke atas dari tempatnya terbit hingga bayang-bayang diri mereka semakin dekat. Manyar menggandeng tangan kanan Daeng, sementara di kepala Dia terjunjung kendi penuh air, percikannya tercurah jatuh pada tanah berdebu, meninggalkan jejak panjang hingga sampai ke atas bukit.

“Sedang apa mereka, Dia?” kata Manyar dan menunjuk ke arah sekerumunan orang di arah hilir, membungkukkan tubuh dan seakan tengah mengais sesuatu pada dasar sungai Impi.

“Mereka sedang mendulang,” jawab Dia pelan setelah berhenti sebentar melihat sekelompok orang dari kejauhan dan meneruskan perjalanannya kembali.

“Apa yang mereka cari?”

“Emas.”

“Emas?” tanya Manyar lagi seakan tidak mempercayai kata Dia.

“Ya.”

“Tahu dari mana?”

“Seorang lelaki bernama Jampuk memberitahuku.”

“Jampuk, Siapa Dia?”

“Seseorang yang tinggal di alun-alun desa.”

“Di mana alun-alun itu?”

“Di balik bukit yang besar itu,” jawab Dia sambil menunjuk ke arah bukit. Punggung bukit itu memanjang hingga melewati tempat di mana rumah mereka berada di bawahnya.

“Apa mereka pernah mendapatkannya?”

“Aku tidak tahu.”

‘Apa kau tidak pernah mencobanya? Setidaknya kita juga punya harapan yang sebanding dengan mereka.”

“Tidak pernah.”

“Sayang,” kata Manyar seakan menyayangkan perkataan Dia, tapi Dia tidak terlalu menghiraukannya sementara mereka terus berjalan hingga tanpa terasa telah sampai di depan beranda.

Manyar langsung menghempaskan badannya pada sebuah bangku kayu yang ada di sana, membersihkannya sebentar karena banyak pasir berserakan di sana. Begitu pula dengan Daeng, ia duduk di pinggir beranda dekat anak tangga dan bersandar pada tiang penyangga. Dia meneruskan langkahnya langsung ke belakang untuk menaruh kendi, menyalakan tungku, merejang sekuali air di sana.

Di depan beranda, Manyar menceritakan banyak hal kepada Daeng, semua yang ditemuinya di luar sana. Daeng mendengarkan dengan kagum, kalau ternyata lebih dari yang ia lihat dan rasakan di tempat sunyi itu, sungguh sangat yang belum Daeng ketahui. Berbagai macam orang, berbagai macam tempat, keramaian yang belum pernah dapat terbayangkan dengan segala keriuhannya.

“Apa kita bisa melihat dengan jelas kuda seperti ini?” tanya Daeng sambil menunjukkan mainan yang ada di tangannya kepada Manyar.

“Ah, kuda itu. Lebih daripada hanya dengan melihat dan mendengar, kau juga akan merasakannya suatu saat nanti. Tapi kuda itu sangat jarang ditemui di sini.”

“Benar, Daeng hanya bisa menghayalkannya saja. Melihatnya di angkasa, ia kelihatan kecil di sana, hanya suaranya saja menderu kencang merambati tempat ini,” kata Daeng.

‘Tapi itu bukan masalah, yang penting gunakan imajinasimu sebaik mungkin untuk menghidupkannya. Suatu saat, mungkin, tidak ada yang mustahil.”

“Apakah ada hal lain lagi yang menyenangkan?” tanya Daeng lagi.

“Yang seperti apa?”

“ Yang seperti ini.”

“Jangan berkata yang tidak-tidak, Daeng,” kata Dia tiba-tiba muncul dari balik pintu memotong perkataan Daeng.

“Ia tidak berkata yang bukan-bukan,” bela Manyar.

“Daeng tidak berkata yang tidak benar, Bu.”

“Ibu mengerti, ingat apa yang ibu katakan dahulu?”

“Daeng ingat.”

“Sekarang main sana.”

Daeng beranjak pergi dari sana, pergi ke tempatnya biasa bermain, Dia kemudian berlalu ke dalam meninggalkan Manyar sendirian di beranda depan melihat Daeng semakin menjauh dari beranda. Tapi akhirnya Manyar memutuskan untuk mengikuti Dia beranjak ke dalam. Di dapur, Manyar melihat Dia sedang meniup suluh pada tungku hingga dapur itu sebagian penuh dengan asap dari pembakaran hingga membuat Dia terbatuk-batuk menahan sesak dan perih.

“Ia terlalu banyak ingin tahu,” kata Manyar ketika Dia bangkit dari depan tungku setelah menyala, bara dari kayu yang telah terbakar itu menjentik hingga percikannya membumbung ke langit-langit yang kasaunya penuh jelaga.

“Aku tahu. Aku selalu berkata agar jangan terlalu banyak bertanya kepadanya.”

“Bukankah banyak bertanya itu bagus. Membuat kita lebih tahu dari sebelumnya.”

“Memang benar. Tapi aku justru menjadi khawatir.’

“Kenapa? Karena menjadi terlalu banyak tahu?”

“Mungkin.”

“Aku pernah mendengar seseorang berkata ‘sedikit tahu itu membahayakan, tapi banyak tidak tahu justru lebih berbahaya.”

“Bukankah justru banyak tahu itu yang membahayakan?”

“Kalau begitu malah kaulah yang salah.”

“Setidaknya aku tahu apa yang harus aku lakukan,” kata Dia dan membuat Manyar mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

“Sekarang apa yang mesti aku lakukan?” tanya Manyar.

“Kau bisa lakukan apa saja sesukamu.”

“Baiklah, akan aku lakukan apa yang aku mau lakukan,” kata Manyar dan pergi meninggalkan Dia di belakang sendirian.

““““

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: