Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

– Dia bag. 4

DIA

Sawaludin Permana

Bagian 4

“He, Jampuk, hari sudah tinggi masih juga kau meringkuk di tempat tidur. Bangunlah!” kata Mak Randa, melihat Jampuk masih tertidur lelap di tempat tidurnya. Mak Randa bergegas membuka jendela dan cahaya matahari langsung menyeruak memenuhi seisi ruangan di mana Jampuk masih memejamkan kedua matanya, sorot cahaya mengenai wajah Jampuk. Jampuk memicing sejenak lalu membalik tubuhnya menghindari cahaya matahari dan membakar ketenangan dirinya, ia tidak menghiraukan Mak Randa yang setelah membuka jendela berdiri di samping ranjangnya. Mak Randa tidak banyak, menggelengkan kepala lalu keluar dari kamar Jampuk.

Cahaya menyengat itu semakin membuat Jampuk kesal, ditariknya kain selimut panjang bermotif batik itu lalu ditutupnya seluruh badan hingga kepala Jampuk tenggelam. Tapi itu juga tidak cukup untuk segera mengantarnya kembali ke alam mimpi yang sudah dirajutnya, secepat sinar matahari yang silau, tangan itu kembali menyibakkan kain yang barusan digunakan untuk menutupi tubuhnya. Mata Jampuk tetap memicing kesal menghadap jendela yang terbuka selebar-lebarnya mengundang bias sinar, bahkan bukan hanya itu, udara yang masih mengandung embun, gemerisik daun, nyanyian burung, suara lalu lalang, kesibukan-kesibukan, ketukan yang memukul, ocehan-ocehan dan segala yang terdengar dari luar jendela ikut serta dibarengi dengan suara ayam jantan dan cahaya fajar merambatinya, membuat Jampuk semakin terganggu dengan semua itu.

Jampuk berteriak keras sambil menutup telinga, memukul kepalanya pada pinggiran bale. Tapi itu cuma sebentar saja, lalu ia duduk di pinggiran pembaringan, kakinya telanjang menggantung sejengkal di atas tanah, tubuhnya membungkuk, matanya merah menantang cahaya matahari. Nyatanya Jampuk tak mampu meneruskan tatapannya, cahaya itu terlalu menusuk ke dalam diri Jampuk. Tirai yang terpaku di atas jendela itu melambai, menjilat seisi udara yang dapat digapai olehnya dan bayangan tipis darinya berkelebat  pada sebagian wajah Jampuk. Ia masih terdiam tanpa gerak di pinggiran bale, pikirannya kosong, rambut ikal di kepala Jampuk bergelombang tidak karuan, guratan acak bekas kain yang menekan wajahnya masih tampak, sama seperti dirinya yang kacau pagi itu.

Bilah bambu menderit kasar sewaktu Jampuk bangkit dari pembaringannya, sebentar ia melihat keluar jendela. Tak ada yang dilihat Jampuk selain silau yang menyengat kedua bola matanya. Jampuk tidak bisa berbuat banyak, ia hanya menahan sinar itu dengan tangan kanannya dan kembali masuk ke dalam. Pada dinding sebelah kanan Jampuk menghadapkan dirinya, ada sebuah cermin kecil meniru diri Jampuk, tiruan yang terbalik. Kiri dan kanan, kanan dan kiri, keduanya bercampur dalam udara yang jadi perantara antara Jampuk dengan ‘Jampuk’ yang ditiru oleh cermin di dinding bilik. Cermin itu tetap menempel di sana.

Jampuk keluar dari kamar dan langsung menuju belakang, di sana sudah ada Mak Randa sedang memasak nasi. Asap dari nyala tungku menggumpal pada dinding atap dapur. Jampuk hanya menoleh sebentar ke Mak Randa lalu menuju ke bejana kecil yang diletakan di atas sebuah bangku yang tingginya hanya selutut Jampuk. Ia membungkukkan tubuhnya, sekali lagi wajah Jampuk terlihat pada permukaan air dalam bejana, padahal pagi itu Jampuk tidak berharap bisa melihat wajahnya sebanyak yang dilihatnya sekarang. Dikuaknya bayangan dirinya sendiri dan membasuh wajah beberapa kali hingga percikannya berhamburan.

“Begitu lebih bagus untukmu daripada kau tidur lebih lama lagi di pembaringan. Menyia-nyiakan waktu dan kau biarkan ia pergi mendahului. Apa yang akan kau temui di sana?” kata Mak Randa setelah menaruh nasi hangat itu di tempatnya dan Jampuk mengiringi langkah Mak Randa setelah ia membasuh wajahnya dengan bersih kemudian duduk di bale belakang, menyeruput kopi yang sudah tersedia di sana. Bangkit lagi berjalan menuju pintu yang menghubungkan antara dalam dengan belakang, pada kisi-kisi di atas pintu itu tangannya meraih bungkusan rokok keretek yang sudah lusuh. Jampuk duduk di tempatnya semula. Tinggal beberapa batang rokok saja ketika Jampuk mengintip dari sela-sela sobekan bungkusnya, mengeluarkan sebatang dan langsung ditaruh pada bibirnya yang hitam. Kepulan asap putih tebal itu terhambur keluar dari mulut Jampuk. Ujung rokok itu sekarang telah membara dan berjalan mundur, pelan dan habis menjadi abu.

“Aku tidak menemukan apa-apa,” kata Jampuk menjawab pertanyaan Mak Randa, bara dari rokok yang dijepit pada jari kirinya melentik hingga percikannya terbawa ke udara. Mak Randa kemudian duduk dekat Jampuk, ditangannya tampak tergenggam sebuah mangkuk berisi kapur sirih, tembakau dan gambir yang sekarang diletakkan di atas pangkuannya. Terampil tangan Mak Randa menyusun bahan-bahan untuk menyirih tersebut, ia biasa melakukannya, apa lagi pada saat senggang atau sedang beristirahat.

“Kau memang benar-benar tidak akan menemukan apa-apa di sana kalau kau tetap berlaku seperti itu,” sambung Mak Randa sambil tangannya mengantar gumpalan sirih itu ke dalam mulutnya, dilumatnya hingga hancur  dan warna kemerahan menyepuh seluruh mulut dan bibirnya. Jampuk membiarkan saja melihat seperti itu, ia hanya menikmati rokok dan menyeruput sedikit demi sedikit kopi kental, membiarkan pikirannya mengawang.

“Setidaknya aku temukan diriku sendiri.”

“Dalam balutan kain selimut?”

“Bukan hanya itu, Mak.”

“Memangnya apa lagi yang ada dalam pikiranmu itu. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan itu, Jampuk. Biar aku sendiri yang membesarkan kau hingga sampai saat ini yang seharusnya, aku pikir…”

“Mak tidak perlu berpikir yang macam-macam terhadapku, aku tahu apa yang aku pikirkan dan mana yang tidak ingin aku pikirkan,” potong Jampuk.

“Kalau saja bapakmu masih hidup.”

“Tapi bapak sudah lama mati, Mak, untuk apa diungkit-ungkit. Kalaupun tetap dibicarakan toh, tidak akan merubah apapun.”

“Memang tidak merubah apa-apa.”

“Nah, Mak sendiri sudah menjawabnya.”

“Pikiranmu sudah mendahului pikiranku sekarang.”

“Bukan masalah mendahului atau tidak mendahului, Mak, masalahnya cuma bagaimana cara kita memandang sesuatu. Bukan seharusnya.”

“Seharusnya bagaimana maksudmu? Dengan hanya berlindung di balik selimutmu itu. Lebih baik dengan si Godam itu, yang selalu kau cemooh sebagai seorang pemimpi, seorang penghayal. Nyatanya, aku lihat malah kaulah si pemimpi itu, seorang penghayal. Dia lebih baik daripada kau, masih punya harapan dan mau melakukan apa saja, asal berguna dan halal, untuk dirinya sendiri maupun berguna untuk orang lain.”

“Dengan mendulang emas di sungai Impi? Cerita itu pun cuma dongeng belaka. Itu sebabnya aku tidak ingin disamakan dengan mereka, hidup dalam dongeng-dongeng.”

“Itu lebih baik, Jampuk. Daripada tidak melakukan apapun, seperti kau.”

“Aku tahu apa yang aku lakukan untuk diriku.”

“Dengan mengarungi malam, mengarungi mimpi-mimpi. Kau sendiri hidup dalam dongeng yang kau ciptakan. Aku berkata seperti ini bukan untuk kebaikanku, tapi untuk kebaikanmu. Jangan kau mangsa dirimu sendiri. Aku takut kau malah sudah melakukannya.”

“Memangsa diri sendiri?”

“Itu yang kutakutkan terhadapmu, jangan kau hancurkan hidupmu yang masih panjang untuk dititi,” kata Mak Randa, Jampuk hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Mak Randa. Sirih di mulut Mak Randa masih digosok-gosokkan pada giginya yang sudah semakin merah lalu diludahkan pada wadah yang sejak tadi sudah ada di kolong bale-bale.

“Yang pasti aku tidak akan menghancurkan diriku sendiri, Mak,” kata Jampuk dan ia bangkit dari tempatnnya duduk.

“”Mau ke mana kau? Air di tempayan sudah habis, lebih baik kau ke sungai untuk mengambilnya,” suruh Mak Randa.

“Bertemu orang-orang yang biasa bermimpi siang bolong di sungai Impi.”

“Itu menurutmu.”

“Bukankah Mak biasa mengupah si Dirun untuk mengambilnya?”

“Biasanya begitu, tapi sekarang ia tidak ada.”

“Tidakkah Mak bisa menyuruh orang lain saja. Aku sedang malas, Mak.”

“Untuk apa aku menyuruh orang lain kalau kau ada di rumah. Lagipula air yang kau ambil itu juga untuk minummu. Lekas bawa kendi itu dan isi dengan air, cepat,” kata Mak Randa sambil menunjukkan tangan yang masih menggenggam sejumput sirih di ujungnya ke arah kendi air yang cukup besar untuk disi.

“Terserah Mak sajalah. Tak kusangka harus bertemu mereka dalam satu periuk,” kata Jampuk agak berat melangkah untuk mengambil kendi yang ada di pojok dekat pintu belakang dapur.

“Lakukan dengan ikhlas, demi makmu ini, jangan dipaksakan seperti itu.”

“Lantas kenapa Mak masih menyuruh aku juga?”

“Karena kau anakku, tak pantas menyuruh orang lain sedang kau asyik-asyikan seorang diri. Itu baru dosa namanya.”

“Ya ya, lebih cepat lebih baik. Aku tahu, akan aku bawakan Mak sekendi air biar hati Mak puas, tapi tak perlu berceramah seperti pesohor sakit,” jawab Jampuk sambil berlalu keluar menenteng kendi kosong menuju sungai Impi yang jaraknya sedikit jauh kalau melewati jalan desa namun ringan kalau memotong lewat belakang ladang. Jampuk memilih jalan terakhir ketimbang harus melewati jalan desa. Pertama cukup melelahkan, kedua ia tidak ingin bertemu muka dengan orang, pasti ia akan ditertawakan karena terlihat menggotong sebuah kendi air karena Jampuk memang dikenal dengan orang yang tidak pernah melakukan hal seperti itu. Terlebih sekarang ia tengah menenteng kendi kosong dan berjalan menuju sungai Impi yang baginya sungai itu memang benar-benar mengalir layaknya mimpi yang berkepanjangan, karena mereka yang mendulang dipermukaan airnya tidak lebih juga seorang pemimpi bagi Jampuk. Dan ia kesal harus bertemu dalam satu aliran air sungai itu, karena Mak Randa memaksakan kehendaknya kepada Jampuk.

“Setidaknya aku tidak sakit,” kata Mak Randa pelan setelah Jampuk menghilang dari pandangannya dan meneruskan menyirih di dapur sendirian.

 

““““

 

Setelah mencapai pinggiran ladang, ada sebuah jalan kecil memanjang di sana, jalan setapak yang akan membawanya ke ujung, dari sana tepi sungai Impi tidak berapa jauh dijangkau oleh Jampuk. Dulu, ladang tua itu subur dan hijau, sekarang apa yang dilihat Jampuk adalah sebuah hamparan pohon kering bekas tumbuh-tumbuhan yang ditanam tapi sekarang tumbuh liar dan hidup begitu saja tanpa pernah ada yang mengurusnya. Dan orang-orang di kampung Suling masih menyebut tempat itu sebagai ladang. Tepatnya lagi, ladang tempat pohon liar tumbuh. Namun pohon-pohon itu sendiri pun tengah memperjuangkan hidupnya dalam menghadapi udara panas yang membakar. Jampuk memilih jalan ini karena ia biasa pergi ke tempat yang sunyi itu sekedar untuk menyendiri, pada pertengahan jalan itu ada sebuah jalan lain yang tersembunyi, jalan bercabang. Jalan itu akan membawa ke sebuah gubuk kecil di mana Jampuk suka ke sana. Belum pernah ada orang ke tempat itu selain Jampuk. Tapi ketika ia melewati jalan itu, ia melewatinya begitu saja, karena ia akan menuju sungai Impi. Jampuk terperanjat ketika ia sampai di pinggiran sungai ia melihat seorang laki-laki bertubuh kecil berenang di pinggiran sungai Impi.

“Sudah kuduga kau tidak ke mana-mana he, Dirun,” kata Jampuk kesal dan melemparkan ranting ke arah Dirun. Dirun tidak banyak bicara ketika Jampuk duduk dan merendam kaki di pinggiran sungai yang jernih. Kesejukan merambati kulitnya setelah ia beristirahat, sementara Dirun masih merendam tubuhnya di dalam aliran sungai, tidak menghiraukan keberadaan Jampuk yang tampaknya sedang kesal kepada Dirun.

“Tak kusangka, akhirnya kau bisa juga jalan sambil membawa kendi itu,” kata Dirun sambil membasuh wajahnya.

“Aku lewat belakang kampung, ladang itu,” jawab Jampuk. Tapi ia berpikir sejenak kenapa Dirun juga tahu tempat ini, jalan di pinggir ladang. Ia mengesampingkan kecurigaannya karena semua orang juga tahu jalan ladang itu, malah yang ia pikirkan apakah Dirun tahu soal gubuk yang tersembunyi di balik semak-semak.

“Oo, aku kira kau lewat kampung. Aku tidak tahu apa yang terjadi seandainya seorang Jampuk lewat jalan itu sambil menenteng sebuah kendi kosong.”

“Untungnya aku tidak lewat sana. Kenapa kau tidak ada sewaktu ingin disuruh makku untuk mengambil air?”

“Aku memang tidak ada. Tapi bukan aku yang bilang kalau aku tidak ada.”

“Siapa yang bilang?”

“Mana aku tahu, yang pasti aku memang sedang tidak ingin disuruh oleh siapa pun hari ini. Aku ingin menikmati hari dengan berendam di sini sepanjang hari dan mengagumi tempat indah ini.”

“Pantas saja kau lama sekali kalau disuruh mengambil air. Kau mengambilnya tidak di tempat yang biasa.”

“Tempat biasa? Terlalu banyak orang dan itu akan mengurangi kejernihan air yang akan kuambil nantinya karena sudah bercampur dengan lumpur. Memangnya kau mau meminum air keruh?”

“Siapa pula yang ingin.”

“Justru itu, lebih baik kalau mencarinya di tempat lain. Rasanya pun lebih nikmat, belum ada rasa lain yang mempengaruhi.

“Sekarang malah aku yang disuruh untuk menggantikan kau, belum lagi matahari terlalu menyengat belakangan hari ini.”

“Sudah sejak lama matahari berlaku serupa itu di tempat ini, Jampuk, kau saja yang tidak terlalu memperdulikan sekelilingmu. Pantas saja kau tidak peka.”

“Peka bagaimana maksudmu?”

“Itu saja kau tidak mengerti.”

“Aku memang tidak mau ambil pusing. Sekarang aku ingin setelah kau berendam di sana kau bawa pulang kendi ini. Aku enggan membawanya kembali.”

“Ah, Jampuk, Jampuk. Kenapa kau bernama Jampuk?”

“Karena kedua orang tuaku memberiku nama itu. Aku sendiri bertanya-tanya, di mana letak kesalahannya sampai aku benar-benar seperti burung hantu yang menyebalkan dan tidak bisa bersiul di malam hari, dan aku memang benci siang hari.”

“Salahnya karena kau bernama Jampuk. Dan itu memang namamu kan?”

“Jampuk itu memang namaku, dan sepertinya sekarang kau malah membuatku kesal.”

“Itu bukan salahku,” kata Dirun dan ia kembali semakin ke tengah menjauhi Jampuk, meski di tengah airnya tidak terlalu dalam, tapi bagi seukuran Dirun yang berbadan kecil, dirinya tampak tinggal kepalanya saja yang menyembul di permukaan sungai Impi.

“He, jangan terlalu ke tengah, aku takut kau terbawa arus. Aku tidak ingin nantinya harus menjemput kepalamu yang mengambang di sana,” kata Jampuk melihat Dirun semakin ke tengah dan itu membangkitkan kekhawatirannya.

“Jangan risaukan aku. Sebelum kau pun aku sudah bisa menjaga diriku sendiri,” sambut Dirun dan ia masih mengambang di tengah sana.

“Lebih baik kau sudahi saja dan lekaslah kau bersihkan diri. Mak pasti membutuhkan air daripada kau.”

“Kenapa tidak kau saja yang mengantarnya, aku masih ingin berlama-lama di sini.”

“Karena aku tidak ingin dan aku juga tidak ingin melihat kau terlalu lama di tempat ini.”

“Hah, kau mengganggu hariku.”

“Dan akan lebih kurusak kalau kau tidak melakukan apa yang kusuruh. Sekarang cepat rapikan dirimu, lalu bawa kendi ini. Tapi kau isi dulu, jangan membawa pulang kendi kosong lagi, percuma. Aku lupa mengisinya tadi karena terlalu sibuk denganmu.”

“Perintah, perintah, selalu saja perintah. Sepertinya aku tidak akan lepas darimu sebelum mengantarkan benda ini.”

“Persis. Sekarang lakukan yang barusan kuperintah.”

“Rasanya begitu,” jawab Dirun sebal, ia lalu mengeringkan dirinya di balik semak-semak dan mengenakan pakaiannya kembali.

Dirun meraih kendi yang tidak jauh dari Jampuk, mata Jampuk mengawasi Dirun, ia sedang mengisi kendi sampai penuh. Tubuh kecil milik Dirun lincah sekali bergerak, berbeda dengan Jampuk. “Selamat tinggal, setelah ini aku terbebas darimu dan akan meneruskan menikmati hari-hariku, Jampuk. Jangan kau ganggu aku lagi,” kata Dirun dan langsung memanggul kendi yang telah terpenuhi oleh air sungai Impi dan bergegas meninggalkan Jampuk sendirian.

“Pergilah sana, jangan bilang mak kalau aku ada di sini. Kalau ditanya, bilang saja kau tidak tahu.”

“Itu berbohong namanya. Berapa kali aku mesti bohong hanya untuk sekedar menyembunyikan batang hidungmu dari makmu sendiri, dan itu membuatku rugi.”

“Apa yang kau rugikan, hah?”

“Berbohong demi kau. Lebih baik segera kutinggalkan kau, Jampuk, daripada harus lebih lama lagi bicara dengan kau.”

“Itu pun lebih baik untukku daripada harus mengoceh sampai mulut berbusa tapi tidak pernah sampai,” jawab Jampuk sambil menguntit bayangan Dirun hilang dari kelopak matanya.

Matahari sudah benar-benar tinggi di tempat Jampuk berada, kilau air dari sungai Impi berkelebatan silih berganti saling mendahului seperti seonggok butiran mutiara yang jatuh bersamaan dan terhampar menyerak di permukaan aliran sungai tersebut. Jampuk masih duduk seorang diri merendamkan kakinya, ia lalu merogoh kantong celananya dan meraih bungkus rokok keretek berserta pematiknya. Menyalakan sebatang dan meletakkan bungkusan rokok keretek itu pada tempat yang lebih kering. Jampuk memandangi kilauan itu sambil tetap menghisap rokoknya dalam-dalam. Pandangannya tertuju pada sebuah bukit kecil sejajar dengan hulu sungai Impi. Ia teringat kalau di balik bukit itu ada sebuah rumah kecil dan ia pernah ke sana. Tidak sejengkal pun pandangannya lepas dari punggung bukit yang kini sudah membayang oleh bias sinar matahari, tampak mata Jampuk memicing melihat bayangan yang dilindungi cahaya matahari, semakin panas dirasakan. Beberapa butiran keringat jatuh dari sudut keningnya dan bercampur dengan aliran sungai Impi.

Kemudian pandangannya dialihkan ke hilir sungai, matanya dipaksakan sedikit lebih jauh lagi melihat, beberapa orang mengoyak lumpur mengandung pasir hitam, menyaringnya dan mereka berharap bijih emas tidak luput dari pandangan mereka pada pinggir pendulang yang mereka genggam. Jampuk masih memandang mereka sebagai pemimpi. Tapi terkadang pertanyaan itu juga berbalik kepada dirinya sendiri dan bertanya apakah mereka atau dirinya yang pemimpi hingga pikiran itu mengembalikan kepada perkataan Mak Randa, belum lagi Godam dan yang lainnya. Oleh Mak Randa, Godam lebih baik dari pada Jampuk dan berpikir di mana letak kesalahannya. Siapa yang salah, siapa yang dipersalahkan atau mungkin memang tidak ada yang salah atau dipersalahkan. Semua orang berhak merujuk kembali dirinya sendiri terlepas salah atau tidak salah, benar atau tidak benar. Jampuk bilang  pada dirinya sendiri dan ia yakin akan hal itu. Lebih baik bilang semuanya salah daripada semuanya benar. Kalau semuanya merasa benar tidak ada yang patut dipersalahkan, kalau semuanya salah, semoga saja, semua orang bersatu untuk mencari kebenaran. Dan Jampuk cuma tersenyum kecil menelaah pikirannya sendiri yang mengembara seperti itu dan lebih baik ia memilih salah ketimbang benar, atau ia lebih baik memilih benar daripada harus selalu salah, atau, mungkin lebih baik kedua-duanya saja ia pilih. Toh itu tidak terlalu berbelit-belit atau menyita waktu. Tinggal iya atau tidak, tidak atau iya. Pemimpi atau bukan pemimpi, atau penghayal, atau ia benar-benar seorang pemimpi, bukan lagi seperti. Atau Jampuk bukan Jampuk, atau, Jampuk itu siapa yang ditanyakan oleh dirinya sendiri. Atau Jampuk itu adalah Jampuk sendiri ketika ia berdiri di depan cermin pagi tadi, hanya saja terbalik.

Siapa Jampuk, siapa dirinya, siapa yang terlukis di cermin terbalik, jelasnya siapa yang terbalik? Jampuk merasa dirinyalah sesungguhnya yang ada di balik cermin yang terbalik itu yang memberitahu sesuatu telah terbalik. Atau keterbalikan itu sendiri merupakan suatu kesadaran tersembunyi yang harus dicari jalannya untuk keluar dari tempatnya sekarang. Jampuk merebahkan dirinya pada tanah pasir di pinggir sungai Impi dan menarik kakinya jauh-jauh dari air tersebut, bias dirinya lepas dari bayangan sungai Impi dan kini matahari semakin memanggang Jampuk yang merebah di sana. Tapi pertanyaannya belum selesai terjawab.

Matanya dipejamkan dan mulai menelusuri jejak diri yang mungkin sudah lama tersimpan dan memang tak pernah dibuka untuk dikenangkan atau sekedar mengingatnya. Sekarang mungkin saat yang tepat untuk mencarinya, mengorek-ngorek sejarah seperti seekor kucing mengais tumpukan tulang ikan dan berharap perutnya akan terpuasi lewat bongkahan tulang di mana ujung-ujungnya menajam. Mata Jampuk tetap terpejam, ia menyadari, mencari sesuatu yang bersembunyi di balik diri sendiri sebenarnya lebih susah daripada apa yang dihayalkan sebelumnya. Dan Jampuk belum mampu meneruskan.

Kegelisahan seperti apa yang membuat kesadaran harus terus menenggelamkan dirinya dalam sesuatu yang tak mungkin dapat membebaskan dan mengikatnya erat-erat. Dan Jampuk seperti dibiarkan kelaparan dan kehausan, menjauhinya dari tangan yang akan membelainya, menyayanginya atau sekedar untuk memeluk. Atau itu adalah Jampuk sendiri.

Di dekatnya, sungai Impi masih menggemericikan suara alirannya, merambati ketenangan dengan lambat sekali, karena lambatnya, semua hampir tampak tidak bergerak sedikit pun. Bahkan rumput ilalang yang tumbuh di sana dipenuhi ketenangan yang mustahil. Matahari meredup, iringan awan tipis mencadarinya dengan lembut, sesaat udara sejuk berhembus, gerak yang lambat sedikit landai menunduk. Dan Jampuk tidak lagi menutup matanya demi melihat  dirinya yang lain lagi, yang telanjang, yang murni atau yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Panas lagi,” bisik Jampuk pelan sambil memicing ke arah matahari. Jampuk bangun dari tempatnya semula dan berjalan menuju arah sungai, dibukanya baju dan dihempaskan begitu saja, juga celananya. Dalam kepolosan dirinya, Jampuk tidak begitu menghiraukan, yang pasti bagi dirinya ia akan merendam tubuhnya ke dalam sungai Impi dan merasakan kesegaran menembus dirinya yang terbakar. Sekali lagi Jampuk menenggelamkan kepala hingga beberapa saat ke dasar air sampai menunggu sisa nafas yang disimpan paru-parunya habis. Ketika menyembul, segala udara dihirupnya mengisi paru-paru dan jantung, menjalar ke seluruh  urat nadinya.

Ketika Jampuk tengah merendam dirinya di air, seorang anak laki-laki sedang menelusuri pinggiran sungai di seberangnya sambil berlari kecil. Tak ada belenggu pun merantai langkah kakinya yang lincah menjejak tanah, tangannya menggenggam sejumput ranting dan kembang yang dikumpulkan selama ia menelusuri pinggiran sungai Impi. Bocah kecil itu berhenti tepat di punggung Jampuk. Jampuk tidak tahu dan itu membuat bocah laki-laki tertawa kecil melihat Jampuk berendam di sana dengan cara yang tidak lazim. Tapi akhirnya Jampuk mendengar suara seseorang sedang menahan tawa dari belakang punggungnya. Jampuk diam sejenak dalam aliran air yang terus menerjang dirinya, lalu perlahan menampar wajahnya sendiri seperti orang yang sedang membangkitkan kesadarannya, atau mungkin yang dilihatnya hanyalah halusinasi. Tapi sosok kecil di hadapannya tak juga mau sirna dan bocah laki-laki itu malah semakin kencang suaranya melihat Jampuk serupa itu.

“Kenapa kau lakukan itu pada dirimu sendiri, Jampuk? Eh, benarkan, kalau aku tidak salah namamu Jampuk?” tanya bocah kecil itu dan duduk di pinggiran sungai Impi. Ia masih tetap tersenyum kepada Jampuk.

“Eh, rupanya kau nyata,” kata Jampuk menyadari kalau itu bukanlah hayalan. “Siapa kau heh, anak kecil, mengganggu ketenanganku? Tertawa lagi,” jawab Jampuk malah balik bertanya.

“Aku?”

“Memangnya siapa lagi yang kutanya?” tanya Jampuk lagi semakin kesal.

“Rupanya ingatanmu payah, Jampuk.”

“Ingatanku tidak payah. Aku memang tidak tahu siapa kau, dasar bocah. Tampaknya tidak adil kalau kau tahu namaku tapi aku tidak tahu siapa kau. Ya, aku memang Jampuk.”

“Baiklah, ternyata kau memang payah. Akan aku kasih petunjuk untuk ingatanmu yang benar-benar tidak mau berpikir itu.”

“Hah, beraninya kau berkata seperti itu kepadaku.”

“Jangan marah dulu, Jampuk. Kau lihat bukit kecil itu,” kata bocah kecil itu sambil tangannya menunjuk  ke arah sebuah bukit kecil yang tadi juga diamati oleh Jampuk. Tangan kecilnya ditarik kembali dan pandangannya kembali kepada Jampuk. “Rumahku di balik bukit sana,” sambungnya lagi.

“Benar, bukit itu?”

“Masa kau tidak mau percaya juga.”

“Pantas saja kau menyebalkan,” kata Jampuk, bibirnya sedikit dimajukan dan tangan kanannya mengelus dagunya yang bulat menggantung seperti layaknya orang yang sedang berpikir. “Kalau begitu kau pasti Daeng, bocah kecil menyebalkan yang selalu banyak tanya. Kalau tidak ini, itu. Kalau tidak itu, ya sebaliknya. Dan kata yang paling kubenci darimu adalah ‘kenapa’ dengan tanda tanya besar di belakangnya.”

“Rupanya ingatanmu sudah pulih, Jampuk. Namaku memang Daeng, tapi kenapa kau menganggapku seperti itu?”

“Aku tidak perlu menjawabnya. Kau bisa memperpanjang urusanku dan merusak hariku yang indah.”

“Kenapa?”

“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kau tidak perlu tahu kenapa,” jawab Jampuk yang kelihatannya sudah benar-benar kesal. Jadi ia memilih kembali ke tengah sungai melanjutkan merendam dirinya di sana tanpa menghiraukan Daeng yang masih duduk sendirian di pinggiran sungai. Matanya jadi memicing karena sinar matahari semakin menunjukkan dirinya. “Apa kau tidak akan dicari ibumu sampai bermain begitu jauh, Daeng?” tanya Jampuk kemudian dari tengah sungai. Akhirnya Jampuk juga tidak tega mendiami Daeng di pinggiran sungai.

“Aku sudah terbiasa bermain sejauh yang kusuka. Ibuku tidak akan bertanya lagi.”

“Apa kau tidak akan dimarahinya nanti?”

“Ibu memang suka marah kepadaku, tapi aku tahu ia tidak sungguh-sungguh terhadapku. Sekarang malah kau yang banyak tanya kepadaku,” jawab Daeng, ia lalu melepaskan kumpulan kembang yang ada di tangannya dan membuka baju serta celananya dan bersiap untuk menceburkan diri ke sungai.

“He, he, he, tunggu, tunggu dulu. Apa yang akan kau lakukan he, Daeng?”

“Aku mau menceburkan diriku ke sungai. Memangnya kenapa?”

“Sudah kuduga kau akan merusak ketenanganku,” kata Jampuk, belum lagi ia meneruskan kata-katanya, Daeng sudah menceburkan dirinya ke sungai.

“Kau tak perlu kelihatan seperti itu, anggap saja aku tidak ada di sini. Lagi pula sungai ini menerima siapa saja yang ingin berendam di airnya yang segar.”

“Kau memang sudah berendam di sini. Kau benar, aku tidak bisa mengusirmu. Tapi jangan ganggu aku.”

“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Karena itu kau harus sedikit menjauh dariku, Jampuk.”

“Peraturan mana lagi yang kau buat itu? Aku yang pertama berendam di sini, kenapa aku harus yang merelakan menjauhkan diri dari tempatku yang seharusnya malah kaulah yang sedikit menyingkir.”

“Itu bukan peraturan melainkan sebuah permintaan, masa kau tidak mau mengalah dengan anak kecil.”

“Untuk apa? Tidak mau.”

“”Keras kepala. Kalau begitu, meski kau sudah banyak melampaui umurku, karena keras kepalamu, sekarang kita sepantar,” kata Daeng dan itu semakin membuat Jampuk kesal dan menggerutu.

Daeng sedikit menyunggingkan senyumnya melihat Jampuk mengalah meski ketenangannya terusik, biar ia menggerutu dengan suara tidak jelas tapi dilakukan juga keinginan Daeng dan ia harus senang berendam agak ke tepi memperhatikan Daeng bermain-main tanpa menghiraukan dirinya yang kesal karena ulah Daeng. Dan Daeng memang tidak peduli.

“He, jangan terlalu ke tengah,” tiba-tiba Jampuk memperingatkan Daeng karena sepertinya ia tidak sadar telah sampai di tengah sungai.

“Aku sudah tahu,” jawab Daeng dan Daeng kembali membawa dirinya agak kepinggir, hampir berdekatan dengan Jampuk. “Aku rasa kita bisa berdamai,” kata Daeng lagi.

“Apa yang harus didamaikan?” tanya Jampuk sambil mengerutkan keningnya pura-pura tidak mengindahkan perkataan Daeng yang sekarang sudah ada di hadapannya.

“Kau kesal kepadaku karena mengganggu kesenanganmu di sini, di tempat ini. Benarkan?”

“Aku tidak kesal.”

“Wajah dan bicaramu memberitahu. Kita bisa menjadi teman.”

“Menjadi teman dengan bocah sepertimu? Tidak, tidak, itu tidak akan pernah terjadi.”

“Kenapa?”

“Selain kau bocah kecil, aku hanya berteman dengan orang yang gagah, yang pemberani.”

“Bukankah kau dulu pernah bilang kalau aku akan tumbuh menjadi anak yang gagah.”

“Kapan aku pernah berkata seperti itu kepadamu?”

“Sudah kuduga kepalamu memang benar-benar payah.”

“Apa kau tidak bisa jaga mulut kecilmu itu, Daeng.”

“Hanya kalau kau setuju menjadi temanku.”

“Tidak.”

“Waktu pertama kali kau datang ke tempatku dan mengenalku, kau pernah bilang kalau aku akan tumbuh menjadi laki-laki yang gagah. Aku rasa itu masih segar sekali dikepalaku dan oleh karena itu aku pun layak menjadi temanmu.”

“Tetap tidak bisa.”

“Bisa.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa tidak bisa.”

“Karena memang tidak bisa.”

‘Tapi aku akan menganggapmu sebagai temanku.”

“Tapi aku juga akan menganggapmu sebagai bukan temanku, titik. Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa. Dengar itu,” kata Jampuk dan ia semakin kesal kepada Daeng. Mendengar itu Daeng menundukkan kepalanya seperti akan menangis. Rambutnya yang basah menjentikan butiran air sungai seakan ingin mendahului air mata Daeng yang ingin jatuh. Melihat perubahan Daeng, Jampuk jadi salah tingkah dan serba salah, ia tidak pernah berhadapan dengan anak kecil seperti Daeng dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, hal itu membuat kekesalannya langsung hilang, malah berubah menjadi kebingungan. “Laki-laki gagah tidak pernah mengeluarkan air mata,” kata Jampuk lagi, tapi Daeng masih menundukkan kepalanya.

“Daeng minta maaf,” kata Daeng pelan kemudian berjalan ke tepi sungai, mengenakan pakaiannya kembali, meninggalkan Jampuk yang masih kebingungan. Tiba-tiba ia berpikir, malah dirinya yang salah, bukan Daeng.

Melihat Daeng meninggalkan dirinya dan sungai Impi, Jampuk pun bergegas ke tepi dan juga mengenakan pakaiannya, ingin mengejar Daeng yang semakin jauh dari pandangannya. Sebelum melangkah, ia melihat sekumpulan ranting dan kembang rerumputan tergeletak begitu saja di atas tanah kering. Jampuk mengambilnya lalu meneruskan langkahnya mengejar Daeng. Jejak kakinya yang kecil masih basah, memanjang semakin kecil dan di ujungnya Daeng terus berjalan dan berlaku seperti biasanya di mana ia suka bermain seorang diri dan melompat-lompat kecil mengikuti irama hatinya seperti yang Manyar bilang kepada Daeng tentang suara-suara yang bicara di dalam sebuah jiwa. Pada saat itu, kata-kata yang ada dalam diri Daeng mengajaknya berdendang dan memang tidak ada kesepian yang lama, biarpun dengan diri sendiri. Tanpa sadar Daeng mulai bersenandung kecil, ada sebuah nyanyian mengalun dan ia juga ikut menyanyi. Di belakang Daeng, Jampuk masih mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan Daeng yang menyusuri sungai Impi, ranting-ranting kecil masih tergenggam di tangan Jampuk. Langkah Daeng menuju ke arah hulu, di mana ada sebuah  bukit kecil, rumah Daeng berada di baliknya. Daeng menyusuri jalan pulang.

“Aku rasa kita bisa berdamai,” kata Jampuk, nafasnya terengah-engah, tenaganya hampir habis. Berbeda sekali dengan Daeng, ia masih tampak biasa-biasa saja. Daeng melihat sejenak siapa yang ada di belakangnya dan kembali meneruskan langkahnya.

“Apa yang harus didamaikan?” tanya Daeng membalikkan perkataan Jampuk sewaktu di sungai tadi.

“Kau mengulang perkataanku.”

“Daeng cuma membalikkan saja kepada pemiliknya.”

“Baiklah aku menyerah.”

“Laki-laki tidak pernah menyerah.”

“Laki-laki sejati tidak pernah marah menanggapi hal apapun,” timpal Jampuk.

“Daeng tidak marah.”

“Aku rasa kita bisa menjadi teman,” kata Jampuk lagi sambil mengembalikan sejumput ranting dan bunga rerumputan kepada Daeng.

“Daeng rasa kita bisa menjadi teman,” sambut Daeng dan mengambil kumpulan ranting itu dari tangan Jampuk dan tangan kirinya disodorkan kepada Jampuk dengan kelingking mengait dan itu pun dibalas Jampuk sebagai tanda perdamaian.

“Ya ya, kita akan menjadi teman. Dan sebagai teman tidak ada lagi marah-marahan, setuju?”

“Setuju.”

“Dan satu lagi.”

“Apa lagi?”

“Jangan sekali-kali menyodorkan kata ‘kenapa’ kepadaku yang sudah pasti buntutnya adalah tanda tanya.”

“Tergantung,” jawab Daeng terus berlari meninggalkan Jampuk sendirian menuruni tanah bukit. Menyadari hal itu, Jampuk langsung mengejar Daeng ikut menuruni tanah bukit dengan penuh canda tawa. Saling kejar saling tangkap.

Hingga pada beranda depan rumah, Dia sudah berdiri menunggu Daeng. Langkah mereka berdua berhenti di depan Dia. Mereka tidak lagi berani bercanda dan tertawa di depan Dia, terlebih lagi Daeng melihat ibunya berlaku seperti biasa ketika Daeng pulang bermain hingga terlalu lama. Kali ini diikuti Jampuk. Pada saat itu Manyar keluar membawa beberapa helai selimut yang akan dijemurnya.

“Daeng, masuklah. Dan bersihkan badanmu,” kata Manyar melihat Dia diam saja. “Dan kau siapa?” tanya Manyar kepada Jampuk yang masih berdiri ketika Daeng sudah berlalu ke dalam.

“Namaku Jampuk.”

“Aku Manyar. Tapi sepertinya aku pernah mendengar nama itu kalau aku tidak salah.”

“Ya, aku pernah sekali kemari. Labih baik aku pergi saja, kehadiranku di sini rupanya mengganggu ketenangan kalian,” kata Jampuk dan mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Dia dan Manyar.

“Apa kau tidak ingin berteduh barang sebentar saja, Jampuk?” tanya Manyar kembali setelah Jampuk beberapa langkah menjauhi rumah kayu itu.

“Mungkin lain kali, terima kasih atas tawarannya,” jawab Jampuk seraya meninggalkan tempat itu.

“Sayang sekali,” kata Manyar pelan melihat Jampuk semakin jauh.

“Lebih baik ia cepat pergi dari sini,” jawab Dia dan  berlalu kembali ke dalam meninggalkan Manyar sendirian memandangi Jampuk yang sudah menghilang dari mata Manyar.

Di dalam Dia kembali meneruskan sulamannya yang sedikit lebih panjang, Manyar duduk di seberangnya. Ia selalu memperhatikan tangan dan jari Dia yang menari di atas sulaman, tapi sulaman itu belum juga selesai dikerjakan Dia. Mata Dia dinaikkan sedikit kepada Manyar, melepas pandangannya yang tertuju pada benang sulaman dan benang warna oranye melilit tiga simpul pada ujung jari dan menyambung pada jarum sulaman, Manyar juga kembali menatap mata Dia. Pandangan itu ditaruh kembali oleh Dia pada sulaman dan meneruskan ikatan di jarinya yang belum tersimpul dan terikat rapat pada sulur sulaman.

“Kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Dia ketika ia kembali melihat ke arah Manyar dan masih memandangnya serupa itu. Seperti ada sesuatu ingin diungkap dari dalam diri Dia lewat matanya.

“Jampuk,” jawab Manyar pelan.

“Laki-laki itu?”

“Ya.”

“Kenapa?” tanya Dia dan saat itu Daeng sudah keluar dari pintu belakang lalu ikut duduk pada meja di samping Manyar. Mengambil mainan kuda kayu miliknya dan langsung diterbangkan dengan tangannya melewati depan Manyar. Manyar cuma tersenyum kecil, tangannya mengusap kepala Daeng.

“Tidak apa-apa.”

“Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu. Katakan saja.”

“Tidak ada yang ingin kukatatakan kepadamu.”

“Tapi kenapa kau memandangku serupa tadi?”

“Bukankah aku selalu memperhatikan kau ketika sedang menyulam seperti itu.”

“Ah, sudahlah,” sambung Dia dan melanjutkan kembali sulamannya.

Manyar bangkit dari duduknya, berdiri pada sisi pintu memandang keluar. Kadang, pikir Manyar, apa yang ada dihadapannya, di mana seluruhnya hanya berwarna coklat muda dan halus baginya. Bau padang tandus dan angin yang membawanya penuh hawa panas pada siang hari dan dingin yang membekukan pada malam harinya. Tapi rasanya memang tidak ada yang pernah berubah pada tempat tersebut, Manyar tengah menatapnya. Lapat, tiruan suara derap langkah kuda melintas di telinga Manyar, seakan membawanya ikut lari melintasi horison yang biru bersama kuda kayu Daeng.

Semakin tinggi suara itu semakin pula pikirannya ikut melayang dan tiba-tiba Daeng menerobos keluar melewati Manyar yang sedang berdiri di samping pintu depan. Daeng memang tidak pernah bisa diam, ada saja perbuatan yang membawa dirinya ke alam hayal. Manyar melihat Daeng kembali berlari-lari kecil dengan tangan tinggi di atas kepalanya, seakan mainan itu terbang dengan sendirinya, malah dirinyalah yang mengejar kuda itu. Manyar ikut pula keluar, tidak lagi berdiri dan diam bersandar pada pintu, meninggalkan Dia sendirian di dalam yang masih menyulam.

Dia masih duduk pada bangku kayu menghadapi udara panas yang merambat perlahan, selalu saja begitu. Bumi yang melingkar pada porosnya, sisi yang hilang pasti akan kembali ditemui seiring dengan bergantinya matahari dengan bulan, saling bergantian. Seperti roda yang ditarik waktu, bahkan waktu itu apa, kekuatan-kekuatan apa yang membuatnya tanpa lelah terus bergerak dan bergerak, tidak ada satu kelemahan pun dalam dirinya. Malah semua dibuatnya menjadi renta dan tak berdaya. Tapi yang hilang selalu segera terganti oleh yang baru saja lahir, untuk terus menyaksikan dan mengulangkannya kembali.

Sama dengan Dia ketika menyulam rajutannya, benang yang habis akan terus ada  untuk disambung. Yang hilang tidak akan sia-sia oleh yang baru dan akan terus mengikuti garis yang telah ada, meski ikatan-ikatan akan membelokkannya, tapi garis itu akan tetap ada dan membuatnya menjadi sesuatu kesatuan yang utuh. Jalinan yang lain akan mendukung jalinan yang lain lagi dan akan terus begitu sampai jalinan itu telah menjadi kesatuan yang saling membutuhkan. Mirip dengan waktu dan waktu akan menunjukkan alam sebagai karyanya.

 

““““

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: