Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

– Dia bag. 5

DIA

Sawaludin Permana

Bagian 5

“Akhirnya, di sinilah kita sekarang,” kata Manyar. Ia duduk pada bangku kayu di depan beranda bersama dengan Dia. Dan malam yang ditatap mereka, manik-manik yang bekerlipan pada keliman jubah sepi di tempat tersebut, terasa selimut itu memang benar-benar menyembunyikan semua yang terlihat.

“Ya, di sinilah aku sekarang. Tapi tidak terdampar, itu sangat aku syukuri,” sambut Dia yang juga duduk pada bangku kayu berdampingan dengan Manyar.

Dua pasang mata yang memanjakan pandangannya pada padang tandus, dua wajah yang memiliki hati berlainan tapi duduk untuk mencoba saling mengerti dan di antara jalinan benang yang menggantung di jiwa mereka, angin menautkannya menjadi sebuah rajutan. Diam berbisik dan menari, mengajaknya untuk sedikit menjadi liar dengan irama runcing, dengan cahaya teduh lagu itu menyanyi.

Kesederhanaan dari ruh-ruh yang mendekami diri mereka tak pernah mau diam barang sekejap pun meski telah menjelajahi seluk kehidupan mereka masing-masing hingga amukan badai mempertemukan mereka, kaki yang keras itu pun tak juga berhenti melangkah. Masih banyak yang ingin mereka cari, masih terlalu sedikit yang mereka temukan, apa yang ada di tangan belum apa-apa dengan apa yang ada di luar diri mereka. Dia dan Manyar, jari kaki dengan kuku menghitam dan panjang itu seakan belum puas untuk mencakar tanah dan menjejakkannya kembali. Terus, dan terus, karena tak akan pernah terselesaikan.

Kata-kata yang keluar dari bibir hitam tipis itu mungkin sudah menjadi batu kerikil, serpihannya menjadi semacam bongkahan sejarah atau menjadi bagian dari mereka, menjadi tanda di diri mereka masing-masing. Lalu dalam diamnya, kata-kata itu dipertanyakan kembali, ditimbang, dibenarkan, ditolak atau didamaikan kembali, disimpan lagi dan kemudian dibuka untuk dipertanyakan kembali.

“Apa kau pernah merasa rindu untuk pulang?” tanya Manyar setelah cukup lama mereka berdiam diri di beranda depan itu. Manyar mengembalikan matanya lurus ke depan ketika Dia ingin mencoba menerobos mata Manyar, mencari sesuatu dalam diri Manyar. Manyar menolaknya.

“Kau sendiri?” akhirnya Dia mengembalikan pertanyaan itu kepada Manyar tanpa merubah raut mukanya barang sedikit pun juga.

“Entahlah.”

“Kita bisa saja berkata serupa itu, sayangnya, kita tidak bisa berbohong kepada diri sendiri.”

“Kenapa?”

“Suaramu tertekan, nada bicaramu gelisah, Manyar. Meski kau bisa menutupinya dengan sekedar bertanya. Tapi dirimu yang lain akan menjawabnya, kau tak akan pernah bisa menghindar darinya.”

“Tidak sepenuhnya. Aku memang rindu tentang semua yang pernah kulalui, aku juga sadar tidak akan lagi pernah mengulangnya kembali. Waktu yang hilang tak akan pernah tergantikan karena ia akan terus lahir menjadi sesuatu yang baru, aku tahu hal itu. Karena itu di sinilah aku sekarang. Gelisah memang akan terus datang dan menghantui, tapi gelisah itu bukannya tidak memiliki arti apa-apa karena dengan sendirinya ia akan menjadi tumbal dari ketenangan. Mata airnya hanya ada dalam diri kita masing-masing.”

“Terkadang memang benar, satu-satunya alasan kita untuk pergi adalah untuk mengingatkan kita akan pulang. Pulang bahwa kita masih punya tempat, masih punya rumah, masih punya sesuatu untuk cerita. Alasan kita untuk pergi adalah untuk kembali pulang. Sayang, aku tak akan pernah lagi ingat kata kembali karena alasanku pergi adalah untuk melupakan semua yang kutinggalkan di belakang diriku dan aku akan terus mencari tempat baru agar merasa hidup kembali. Untuk merasa bahwa aku manusia yang bebas.”

‘Tapi kebebasan itu mengingatkan aku  bahwa kita sudah tidak bebas lagi.”

“Aku di sini sekarang.”

“Kau memang di sini. Tapi pernahkah kau merasa kita sudah tidak bebas lagi seperti yang kita cita-citakan sewaktu kita memimpikannya.”

“Tak pernah terpikirkan.”

‘Tepat! Kita memang tidak akan punya kesempatan memikirkannya. Setiap kita meraih kebebasan itu kita akan langsung terikat oleh hal baru yang membuat kita tidak merasa bebas lagi. Malah semakin mengikat erat, memaksa kita untuk bicara kalau kebebasan itu tidak pernah berada di sini, tapi di tempat lain.”

“Di mana?”

“Sayangnya aku juga tidak tahu.”

“Aku bebas.”

“Begitu juga dengan aku, tapi bukan dalam arti yang sebenarnya, Dia.”

“Aku merasa diriku manusia yang bebas. Sesukaku melakukan apa saja tanpa ada yang melarang. Berjalan dan melangkahkan kakiku dengan tatapan lurus, teguh pada pendirianku sendiri.”

“Kebebasan kita adalah kebebasan semu,  karena kita adalah bagian dari bongkahan piramida yang telah tersusun sejak dulu. Kita adalah bagian daripadanya. Sesuatu yang saling mengokohkan, yang memangsa dan yang dimangsa, yang disuruh dan yang menyuruh, yang diatur dan yang mengatur. Kita memang bebas tapi tetap tidak bisa lepas dari bongkahan-bongkahan itu.”

“Aku tidak mengerti, Manyar. Sudah sangat jauh aku meninggalkan diriku yang dulu sampai aku ada di tempat yang sunyi ini. Aku memang sungguh menyenangi tempat ini, aku seakan telah bersatu dengan tanah gersang yang ada di tempat ini dengan bukit di belakangnya sebagai pelindungku yang kokoh. Kau boleh bilang aku tidak tahu soal apa pun yang kau katakan, setidaknya aku tahu apa-apa yang ada dalam diriku sendiri, tidak kau, tidak Daeng, juga tidak apa dan siapa yang mengetahui yang ada dalam diriku. Bukan karena aku berpihak pada ego atau kemauan kepada diri sendiri, tapi karena sesuatu yang mendendang dan mengajakku untuk menyanyi bersamanya. Kau pernah berkata tentang hal seperti itu, kau pasti tahu, kau juga mendengarnya, biar aku tidak, kau mendengar nyanyianmu sendiri dan kau mengikutinya. Begitu juga dengan aku. Dalam hal ini mungkin kita serupa.”

“Aku tahu, kita memang bisa begitu bergairah ketika ikut mengalir bersamanya dan tidak ada yang dapat menghentikan gelombangnya. Aku juga tahu kalau kita bisa merasa bebas dengannya, tapi aku juga tidak ingin terperangkap di dalamnya.”

“Aku tidak merasa terperangkap, malah rantai-rantai itu lepas dengan sendirinya. Yang ada bukan lagi sesuatu yang mengikat erat,” kata Dia lalu bangkit dari duduknya, masuk ke dalam sebentar. Pintu yang terdorong menderitkan engsel yang berkarat. Dia kembali keluar tak lama setelah itu dengan membawa selimut tebal, sehelai untuk Manyar dan satu lagi untuk dirinya, selimut itu langsung membungkus dirinya yang mulai menggigil.

“Terima kasih,” kata Manyar setelah selimut itu sampai pada pangkuannya.

“Tak perlu berkata seperti itu kepadaku, udara memang sudah membuat kita harus berlindung di balik selimut tebal ini,” jawab Dia, sebentar saja Dia sudah membebat dirinya dengan selimut, Manyar juga, ia begitu erat menarik pinggiran selimut itu.

Sebentar angin bertiup menjatuhkan sanggulan rambut Dia dan rambut itu langsung tergerai dari ikatan, membuatnya terurai mengikuti aliran udara sampai jatuh pada pundak, sebagian lagi menutup wajah Dia. Sekali lagi angin menyapunya, Dia membiarkan tetap seperti itu sebelum akhirnya ia selipkan di belakang telinganya. Dia menyandarkan dirinya pada bangku kayu, perlahan menempelkan kepalanya seperti terlalu berat pikiran itu dalam dirinya dan menjalari urat nadi, berubah menjadi gelembung udara dalam darah. Nanar matanya mengawang ke atas cakrawala yang hitam, entah apa yang coba Dia tembus. Guratan yang mulai terlukis di wajahnya semakin mengental menghiasi lekuk di pipinya. Namun yang lebih jelas lagi memanjang di keningnya. Tampak  bibir tipis Dia bergetar. Manyar sendiri tidak terlalu memperhatikan, ia juga menempati dirinya sendiri sekarang, dan tidak menyisakan ruang pada udara kosong dalam pikiran yang menerawang jauh. Lalu apa yang terjadi kemudian ketika malam diberi batas dengan sunyi, sebuah ruang di mana menungan menjadi raja dengan pikiran menjelma menjadi bidadari-bidadari lengkap bersama kibasan sayapnya.

Hampir tak ada suara terdengar dari tanah tandus itu, bahkan debu yang biasa terhambur tak sebutir pun melayang dalam gelap yang senyap, angin tak lagi berhembus. Tapi diganti oleh selimut perak yang perlahan menjentikkan embunnya pada pucuk rumput kering di bawahnya. Mimpi-mimpi itu terselip di gumpalan kabut yang baru saja turun dan menaruhnya pada lipatan selimut yang ada di sudut setiap pembaringan untuk membebat dan melelapkan tubuh-tubuh gelisah. Dan kemudian mendamaikannya.

“Malam semakin saja dingin dan larut. Mataku tak juga mau mengantuk, Dia.”

“Mimpi juga serasa enggan mendekat padaku malam ini,” sambung Dia lalu menarik nafasnya dalam-dalam, uap hangat segera keluar dalam sekali hembusan dari mulut Dia. Lampu minyak yang ada di dinding beranda pun mulai meredup, cahaya samarnya menenggelamkan diri mereka berdua yang masih suka duduk di sana, biar udara dingin melingkungi mereka.

“Kalau saja malam ini tak berakhir, maka ia tak perlu diakhiri.”

“Waktu terus bergulir, Manyar. Meski malam sekarang hilang, besok kita tetap bisa menikmati malam yang lain lagi, dengan rasa yang lain pula.”

“Bukan itu yang kumaksudkan.”

“Lalu apa?”

“Kau memang tak bisa merasakannya,” kata Manyar, melihat Dia tidak bereaksi apa pun, akhirnya ia melanjutkan perkataannya. “Jarang sekali kita bisa duduk berdua dalam sepi malam seperti ini, sunyi yang bisa membuat kita saling mengerti. Setidaknya kita mencoba menyelami diri kita masing-masing, itu pun kalau kau membuka alam pikiranmu kepadaku, maka aku pun akan membuka diriku yang lain lagi yang selama ini bersembunyi dan belum diungkap.”

“Memang apa lagi yang ada dalam dirimu itu?”

“Banyak, banyak, Dia!” kata Manyar sambil dirinya melonjak kuat dari tempatnya duduk, ia bangkit dan berjalan hampir mendekati tiang beranda, lantang matanya menjurus pada kegelapan. Tapi dirinya seakan mencari  lagi bagian dari dirinya yang lain lagi di sana. Seakan ia terserak pada tanah yang gersang di hadapannya, mencoba mencari dan berharap ia segera menemukan kembali dirinya di sana.

“Apa yang kau lihat?” tanya Dia mengikuti Manyar yang masih berdiri di sana. Saling menyatukan diri dalam pencarian mereka. Selimut yang dikenakan Dia menjulur sampai ke lantai, ujung-ujungnya terseret.

“Mencari bagian dari diriku. Lucu, barusan aku katakan padamu, banyak diri-diri lain bersembunyi padaku, tapi aku malah mencarinya di balik kegelapan.”

“Tidak ada yang lucu menurutku.”

“Kenapa?”

“Bisa saja kita temui diri-diri kita bukan di dalam. Terkadang, sengaja atau tidak, kita malah menemukannya di luar diri kita sendiri yang tak pernah diduga oleh kita sebelumnya.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Keberadaan kita tidak hanya di dalam diri kita, tetapi juga di luar kita. Kau sendiri yang pernah mengatakan hal itu kepadaku. Tapi kau malah mempertanyakannya kembali.”

“Aku lupa. Tapi memang benar, jarang sekali aku mencari di dalam, aku selalu keluar dari diriku sendiri. Cara kita beda, namun apa yang kita cari sama. Diri kita sendiri.”

“Mungkin juga, tapi aku tidak terlalu egois untuk itu.”

“Kenapa?”

“Bukan hanya aku yang kupikiran sekarang ini, tapi Daeng. Terkadang aku sulit mengerti dirinya, terkadang aku juga terlalu menyayanginya sampai aku tidak memberi kesempatan dia untuk menyenangi dirinya sendiri. Aku terlalu memberi batas yang tebal antara aku dengan dirinya, atau sebaliknya. Sampai batas antara cinta dan kekerasan tak sanggup lagi aku bedakan. Karena rasa cinta itu sendiri yang terlalu berlebihan.”

“Kita memang sering salah mengartikan dan memberi batas antara cinta dan kekerasan itu sendiri demi hanya untuk melindungi perasaan kita tanpa pernah mau menoleh dengan apa yang coba kita cintai, yang malah perlahan akan berubah menjadi kekerasan karena kita terlalu menyayanginya untuk menjadi bagian dari diri kita. Kita bisa bilang kalau itu demi apa yang kita cintai, nyatanya hal yang demikian lebih dapat melukai daripada mendamaikan, atau setidaknya seimbang.”

“Tapi itu lain, Manyar, aku tidak berusaha untuk melindungi diriku sendiri atau memenangkan perasaanku kepada Daeng. Ia memang anakku, tapi aku juga ingin yang terbaik bagi dirinya untuk ia jalani, biar terkadang ia selalu lari. Tapi toh, aku tidak memaksakan kehendakku atau menancapkan kuku kepada dirinya.”

“Tapi kau juga harus ingat, suatu saat ia akan tumbuh menjadi dewasa, yang mungkin bagimu sulit menerima. Ia bisa saja melampaui dari apa yang bisa kita lalui. Kau akan lihat ia sudah menjadi seorang laki-laki dengan pikirannya sendiri, ia punya kebebasan sendiri dan dunianya sendiri, terlepas darimu atau tidak. Dan kau lihatkan, semua kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan semu. Kita tidak bisa bebas seutuhnya, meski kita bilang kalau kita bebas, kita memang bebas.”

“Aku cuma tidak ingin merasa kehilangannya atau benar-benar kehilangan,” kata Dia dan ia pun kembali ke tempatnya duduk semula pada bangku kayu dan menyandarkan kembali tubuhnya di sana.

“Semua ibu dari anak-anak mereka pasti akan berkata sama denganmu, Dia,” kata Manyar, ia pun kembali duduk pada bangku kayu.

“Aku hanya ingin melihatnya menjadi dewasa, tidak lebih,” kata Dia lagi dan bangkit kembali meninggalkan Manyar sendiri di beranda.

“Kau mau ke mana?”

“Mencoba melelapkan diriku. Kau sendiri?”

“Aku masih menyenangi malam ini. Kalau kau ingin tidur, duluan saja, aku masih ingin di beranda lebih lama lagi, jangan tunggu aku. Biar aku yang rapatkan pintu itu nanti.”

“Kalau begitu aku tinggalkan kau sendiri,” jawab Dia dan berlalu ke dalam sementara Manyar masih menyandar pada bangku kayu dengan selimut melingkari tubuhnya memberi kehangatan sedikit dari udara yang mengandung embun.

Manyar sendirian sekarang di depan beranda, merasakan kesunyian melingkar padanya, apa yang dipikirkan jauh meninggalkan dirinya dan mata sayu lurus ke depan. Bayang dirinya meredup seiring lampu minyak yang juga hampir padam, kerlip cahaya yang mencoba bertahan dalam udara dingin, seperti Manyar. Garis-garis tipis melambai dalam hayalan yang kosong dan hampir tak pernah termaknai, tubuh kurus yang bersandar di bangku kayu itu dibiarkan saja melemah dengan untaian rambut menjulur sampai pada pundak Manyar.

Bulan itu terlalu samar untuk dinikmati, kabutnya terlalu tebal, biasnya menghilang, lalu srigala-srigala gunung memecahkan keheningannya. Lolongan yang saling memanggil atau sebentuk suara yang ingin melukiskan perasaan mencekam, menguasai kegelapan dan menancapkan kukunya, mencabik dan meninggalkan bangkai. Tapi masih banyak yang harus diingat, terlebih kubah langit begitu luas untuk dititi dan langkah perlahan sekali karena lembutnya tangan merasakan dan kaki terayun.

Sajak-sajak dilantunkan pada jangkrik pejantan untuk menemukan pasangan dan untuk menemani dirinya sendiri, pelan suara itu mengecil dan hilang sama sekali, tak ada lagi yang bisa membuat tenang hati yang gelisah. Menungan Manyar pun menjadi hampa, mendapati dirinya telah begitu rapuh, goyah, tanpa daya, ia bukan apa-apa lagi dan tidak lagi sebagai apa dan hanya bergelayut pada untaian benang tipis pada dirinya sendiri. Membawanya tidak ke mana-mana.

“Aku memang bukan siapa-siapa di dunia ini, aku cuma seorang Manyar dalam duniaku sendiri,” kata Manyar tiba-tiba. Suara itu pelan sekali dan hanya berkata kepada dirinya. Dan, tanpa sadar, ia membiarkan dirinya terlelap di sana setelah lampu minyak yang menggantung pada dinding beranda itu padam sama sekali sampai tidak meninggalkan cahaya barang sedikit pun juga, jejaknya tertelan oleh kegelapan yang ada di sana.

““““

Fajar baru bangun dari tidurnya, nyanyi burung kecil pada kumpulannya di ranting pohon membuat awal hari ikut berdendang riang menyambut hangatnya matahari yang merekah. Manyar masih lelap pada bangku beranda ketika perlahan cahaya matahari merambati tubuhnya dan sampai pada wajahnya. Lapat-lapat ia merasakan ada sesuatu yang hangat menjamah dirinya. Segera cahaya matahari menerobos mata Manyar yang baru terbuka sedikit dan ia langsung menghalau dengan tangannya.

“Semalam kau tertidur di luar, hangatkanlah dirimu,” kata Dia melihat Manyar sudah ada di dalam.

“Terima kasih,” jawab Manyar sambil mengambil teh hangat yang diberikan Dia.

“Maaf aku tidak membangunkanmu, aku takut mengganggu.”

“Terima kasih,” jawab Manyar untuk kedua kalinya. Raut wajah Manyar tampak sayu dan terlihat pucat sekali. Ia langsung menyeruput teh hangat, rongga lehernya terasa cair ketika teh itu masuk ke dalam tubuhnya yang dingin.

“Kapan kita akan ke sungai, Bu?” tanya Daeng tiba-tiba. Ia muncul dari pintu belakang dan mendekati ibunya. Dia mengusap kepala Daeng dan membuat rambut hitamnya menjadi berantakan, lalu tersenyum kepadanya.

“Sebentar lagi. Sabarlah, Ibu belum merapikan pembaringan.”

“Baiklah, Daeng akan tunggu di luar. Apa kau juga mau ikut, Manyar?”

‘Ya, aku akan ikut bersama kalian ke sungai. Badanku juga membutuhkan kesegaran pagi ini.”

“Sudahlah, tunggu saja di luar. Tapi ingat, jangan terlalu jauh.”

Di luar, cakrawala kuning itu berangsur menjadi warna ungu bersih. Awan beriring tetap bergelayut di tubuh cakrawala. Di beranda depan, Daeng duduk pada lantai papan dekat anak tangga, ia tengah menengadahkan kepalanya memperhatikan awan-awan itu berkumpul dan melayang mengikuti gerak angin. Dan, adakah di atas sana awan-awan itu mendendangkan lagunya sendiri bersama sepoi angin dan mengajaknya bercanda di pagi secerah hari itu di mana Daeng pun ikut merasakan kehangatannya. Menjamah setiap bagian tubuhnya, tidak membakar, tidak membuatnya menjadi abu dan tidak membuatnya menjadi lebur, tapi menyatu sebagai suatu keutuhan yang tetap dalam keterjagaan. Alam adalah seorang maha guru dan kehidupan layaknya bidadari yang menyanyi.

Rahasia apa yang dikandung bukit-bukit, daun-daun, larinya hewan-hewan, atau apa yang ada dipelupuk mata sendiri. Bongkahan pertanyaan yang membuat hati segera mencari jawab dan menguntit malam ketika semua terlelap. Ada yang membuat hati Daeng gelisah dan menghidupkan hayalannya ketika ia menatap matahari, jauh menerobos bias sinarannya. Tapi tidak membuat matanya berkaca-kaca.

““““

Pada sungai Impi, sekelompok penunggang kuda tengah beristirahat di sana setelah semalam mengarungi kegelapan dengan kuda-kuda yang kelelahan membawa tuannya ke mana yang ia ingin tempuh. Meski lelah ia setia menghentakkan kakinya pada tanah debu berselimut gelap malam. Sekarang sungai Impi menenangkannya, gelombang yang berkilat jernih dalam sapuan cahaya pagi, biasnya berkelebat pada sosok tubuh-tubuh berpakaian hitam menutupi sebagian dari dirinya untuk melindungi dari penampakan diri. Matanya  tajam menatap cahaya gelombang yang menyusup dalam rongga matanya, berusaha untuk memalingkan pandangan. Tapi gelombang itu seakan mengurung dan terperangkap disinarannya, tak ada yang bisa mengelak meski ia terlindungi. Wajah-wajah mereka yang tenggelam di aliran sungai Impi ketika membungkuk di pinggirannya, gelombang yang di bawa oleh angin menyamarkannya, dihanyutkan dan entah akan berlabuh di mana. Yang pasti aliran sungai Impi masih jauh untuk sampai pada suatu  muara di mana laut hampir-hampir tak pernah terbayangkan oleh orang-orang dari kampung Suling.

Burung-burung yang terbang ke barat meninggalkan rumahnya yang berada di bagian timur, melintasi kumpulan itu dan memberinya arah ke mana angin akan berhembus dan musim akan berganti. Atau itu hanya sebuah pertanda kalau saatnya untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

Seorang penunggang berdiri di samping kudanya. Mungkin memang sudah saatnya untuk melanjutkan perjalanan yang masih jauh untuk diarungi kepada sebuah tujuan yang juga tak pernah tahu akan berakhir di mana. Pada saat itu matahari masih hangat di timur ketika biasnya menyeruak ke arah barat, ia menoleh  sejenak ke belakang dan menemukan bayangan hitam memendek ke arahnya.

“Sudah saatnya kita harus meninggalkan tempat ini,” katanya pelan kepada kelompoknya sendiri, kumpulan itu segera mendekatinya.

“Baik, Ketua,” jawab salah seorang dan segera membiarkan kumpulan itu kembali ke kuda mereka masing-masing. Yang dipanggil ketua oleh mereka masih berdiri di pinggir sungai Impi ketika kumpulannya menghentakkan tali kekang kuda mereka dan derap langkah kuda yang masih menyimpan rasa lelah kembali menjejakkan kakinya lalu menghempaskan debu pada pijakannya. Mendengar ringkik kuda dihentak sekerasnya ia pun segera menuju kudanya yang hitam dan meyusul kumpulannya. Kembali debu itu menghempas ke udara.

 

““““

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: