Permanas

dan jika kebebasan adalah kata-kata yang tak terantai, maka ia tak perlu dipasung

pelarian

Posted by permanas pada 25 Mei 2014

Seorang pelarian yang bersembunyi dalam keramaian adalah sebuah tindakan pintar dan berani,dibutuhkan lebih dari sekedar nyali besar untuk berada di kerumunan sementara banyak orang mencari hidup atau mati. Tapi itu memang tindakan pintar. Sebuah ungkapan menyatakan persembunyian paling aman adalah tempat berbahaya. Tapi tidak banyak orang berani melakukannya. Lebih dari mereka bersembunyi dalam ketakutan dan mencari tempat sepi untuk mengasihani diri.

“Aku tidak habis pikir jika aku menjadi seorang pelarian dan harus bersembunyi, jadi untuk apa aku berusaha keras bebas dari tempatku yang terkungkung dan terperangkap dalam tempat pengap yang tidak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Aku pikir itu tidak masuk akal dan tidak ada seorang pun yang menyangkalnya, nikmatilah kebebasanmu sendiri, kawan.” aku seseorang yang tengah duduk di taman bersama dengan manusia-manusia lainnya yang tidak terlalu peduli pada apapun selain dirinya mereka.

Jadi, aku pikir itu bukan mustahil, memang sangat menyebalkan berada dalam tempat sepi, pengap,dan mengetahui bahwa pelarian ini dilakukan untuk menghidari hal tidak menyenangkan sebelumnya dan malah terperangkap dalam tempat  lebih buruk.

Keriuhan ini memang bukan harapan satu-satunya dalam melakukan pelarian, pelarian dalam hal apapun, dan entah alasan yang dilontarkan, sebuah pelarian tetaplah pelarian. Melarikan diri dari hal-hal yang membuat seseorang menderita dan mencari penyembuhan, atau pencerahan. Mungkin juga sebuah perenungan sejati. Segelintir orang mengatakannya perpindahan. Melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain, berharap meninggalkan satu sisi memberi pencerahan pada titik baru yang disinggahi.

Kadang kau tidak bisa menemukan apa yang kau harapkan. Ketika kau menginginkan sesuatu kau berharap alam semesta mendukung keinginan tersebut. Semesta memiliki keinginan sendiri, dan kita berada dalam proses keinginan semesta tersebut. Kita bisa saja meyakini bahwa kita mampu melawan, tapi kemungkinannya hal tersebut adalah semu, kita tidak yakin mana yang benar-benar bisa kita yakini dalam kebenaran tersebut. Jadi disinilah pelarian itu dimungkinkan, aku rasa hal-hal diluar kesadaran kita mulai bekerja, yang tidak mampu kita lihat, tapi kita tahu, dalam proses keinginan semesta, kita selalu menemukan apa yang dibutuhkan, bukan seseuatu yang diinginkan. Walau seseorang bersembunyi dalam tempat sempit dan pengap atau dalam keramaian. Sebuah persembunyian adalah perantara, seperti sebuah perhentian bus. Kita berhenti dan kita menunggu untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Tergantung dari pilihan kita, jurusan mana yang akan kita pilih untuk kehidupan selanjutnya. Dan semesta menyediakan, kita yang memutuskan.Pilihan kita menentukan pilihan dari semesta, dan semesta selalu memiliki beberapa pilihan dari pilihan kita. Karena itu kita tidak akan pernah kehabisan pilihan, meski kita melakukan pilihan yang salah, selalu ada pilihan lain di mana kita bisa menentukan pilihan selanjutnya untuk diperbaiki. Kita ada dalam proses semesta.

Sejatinya setiap orang adalah pelarian, disadari atau tidak. Ketika dalam proses pilihannya tidak sesuai apa yang diinginkannya dalam satu waktu tertentu kita membutuhkan ruang untuk menjauh. Jarak antara inilah seseorang berada dalam titik kritisnya, ia berhenti dan duduk dalam sebuah halte bus, sebuah perhentian. Ia melihat banyak transprortasi berhenti dan melanjutkan perjalan, di sini ingatan-ingatan dan pengalaman masa lalu bekerja dalam sebuah mekanisme bawah sadar yang akan menentukan pilihannya. Sebijaksana apa ia memilih ditentukan sejauh mana pengalaman dan ingatan mendewasakannya dalam suatu proses  panjang, menempanya hingga saat ia berada dalam sebuah jarak perhentian. Akan selalu ada pilihan untuk setiap pilihan, dan akan selalu ada penawarnya untuk setiap pilihan. Semesta menyediakannya.***permanas.

Posted in TULISAN LEPAS | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

pikiran yang tertembus

Posted by permanas pada 16 April 2014

Pikiran menembus jauh dari diri yang diam pada sudut keriuhan kota,

canda palsu tawa dipaksakan seakan sudah menjadi kebiasaan umum

tatkala

kesepian mulai mengabut pada udara pengap di setiap relung.

 

Pikiran yang

didorong pada rumah yang dikayuh kaki lusuh dan gontai

menelusuri jalan aspal

yang dingin kala malam tanpa pernah bicara

selain mendengar.

 

Mungkin,

ini bukan

sebuah irama,

tapi musik dalam kehidupan kota

kurang lebih seperti pikiran yang

mengambang

namun melesat cepat.

 

Bukan angin

tapi mampu menghembuskan nafas baru

dan  menghentikan hembusan nafas.

 

Begitulah kisah-kisah yang disampaikan

dalam setiap sudut

belum pernah

mendengar cerita kehebatan dalam titik riuh rendah,

kebisingan euforia yang

tak pernah berhenti.

 

Begitulah lagu selalu dinyanyikan.

 

Tak pernah bosan-bosan

diulang didengar,

dalam canda dan cacian kolong jalan.

 

Sebuah canda

tetap

menjadi canda,

kadang berubah menjadi humor yang menyakitkan,

menyentil

dan

tetap saja

dalam canda selalu mengundang senyum

yang dikulum dan dikunyah

pendengarnya.

 
selebihnya, pikiran  yang coba
ditembus.***

Posted in PUISI | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | Leave a Comment »

tepi

Posted by permanas pada 16 April 2014

ada sesuatu seperti mencoba merobek
dari dalam
kata-kata  terbuang
pikiran  mengambang
ingatan-ingatan (tentang harapan)
kegagalan yang tak pernah berhenti (menerjang)
sebuah rasa
dalam cecapan relung
kepahitan menjelma begitu saja
dan mau tidak mau harus tetap dicecap
meski kau menolak
kau tak punya pilihan

ada kala malam-malam yang dilewati
membuat kau tak bisa terpejam
berkeringat
tak bisa menajamkan pikiran
mata hanya menatap dalam jarak dekat
kabut dan kegerahan seperti santapan malam
yang tak dihabiskan

nyanyi kecil
ah, bukan…
terlalu senyap untuk dikatakan sebuah nyanyi
aku rasa
bahkan senandung pun bukan
menanti pagi seperti ini
layaknya dialektika
satu-satunya pertanyaanmu
adalah jawabanmu sendiri
dan kau tak pernah bisa tahu
kapan harus berhenti menjawab
atau bertanya
mungkin sampai tepi hidupmu
atau seseorang mengakhiri hidupmu
atau kau mengakhiri sendiri hidupmu
tapi
untuk pilihan terakhir
aku rasa
salah satu diantara kita bukan pengecut

Posted in PUISI | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Pergilah, Pejuang.

Posted by permanas pada 8 Februari 2014

Peluru ini adalah yang terakhir mengisi senjataku. Aku pegang senjata ini  seperti  hidup terakhir. Jika tidak, aku sudah mati sejak lama, bukan karena kelaparan, bukan karena hutan ini, bukan karena kegelapan mengelilingiku. Tapi aku juga tidak mengenal siapa musuhku. Serdadu-serdadu itu tidak pernah habis untuk ditembak atau ditikam dalam mimpi mereka. Aku menggigil sekarang, kabut terlalu menyelimuti persembunyianku di bawah rumput, tadi sore kutebas mentah-mentah tanpa iba. Aku tidak ingat lagi, musuh seperti rumput, prajurit mengantri ditembus peluru. Mereka menantang moncong senapan seperti mendatangi seorang kekasih. Ah, rindukah mereka akan kekasih mereka, berdiri di belakang pintu rumah yang mereka tinggalkan ketika kehangatan itu baru saja dilengkapi buah hati yang baru saja hadir diantara mereka. “Pergilah, Pejuang.” Begitu tenang suara bisikan menyapu telinga laki-laki yang dipanggil pejuang untuk berlaga. Pergi tanpa menoleh demi menjaga kehormatan keluarganya. Aku tidak tahu, pejuang itu adalah musuhku atau akukah musuh mereka.

Aku menyatu dengan tanah, dengan udara, bersembunyi dari sesuatu. Aku tidak bergerak. Sesuatu bergema dari arah belakang persembunyianku. Jantungku mulai memompa darah terlalu banyak, senjata satu-satunya tergenggang erat. Aku memeluknya, berharap ia tidak memuntahkan angkara. Aku tidak ingin membunuh malam ini, apalagi terbunuh. Aku sendirian. Aku tidak ingin sendirian. Ketakutanku merambat nadi, sesuatu menekan rumput tepat dikepalaku. Sial, sepatu boot serdadu. Aku bisa tahu hanya dengan mengendus aromanya. Kaki seorang serdadu kelelahan meyusup celah demi celah hutan, aroma tubuh berbau tanah karena merangkak menembus desingan muntahan senjata lawan yang juga serdadu.

Aku mengintip dari celah, mataku berair menahan tanah dari ujung rumput. Aku bisa melihat wajah kotor dan helm baja penuh lumpur. Nafas berat serdadu itu mengganggu ketenangan persembunyianku. Mata nanar, dahi mengeras, pipi penuh guratan kasar, wajah itu mengisayaratkan betapa kerasnya pertempuran. Dan masih tetap mampu berdiri. Aku diam dalam persembunyianku dan tidak ingin mengusik kewaspadaan serdadu yang menginjak sebagian wajahku. Jika tidak, salah satu senjata milik kami akan meletus dan merenggut kehidupan di antara kami. Aku mulai tenang, tapi senjata tetap terpegang, jari telunjuk kananku waspada pada pemicu. Aku tidak ingin merenggut apapun malam ini.

Serdadu itu pergi, meninggalkan bekas  diwajahku, terpisah dari pasukannya. Seperti aku. Sebuah sergapan beberapa hari lalu membuat pasukan buyar, sebagian hilang, sebagian terpisah, sisanya tewas saat itu juga. Hanya kilatan cahaya kuingat, sedikit bayangan dari balik senapan mesin, ia juga manusia. Matanya berkaca-kaca dan bibir terkatup. Aku luput dari desingan peluru yang mengembara mencari sasaran malam itu. Sebuah tembakan menghentikan senapan mesin itu meninggalkan sisa lubang didahi serdadu yang menembaki kami. Aku lari menerobos semak, sinar bulan menerangi jalanku. Pasukanku tidak lagi bersamaku.

***

Aku baru saja mendarat di sebuah pulau tak berpenghuni, wajah-wajah saling menatap tidak jauh berbeda denganku. Aku tidak tahu apakah kami dikirim ke surga atau neraka. Perintah kami adalah menyapu tempat ini, menyapu dalam artian tembak kalau musuh yang kami temukan menembak kami. Aku harap aku tidak  menembak sesuatu, bahkan burung sekalipun. Seorang sersan menyuruh kami bergegas, mengemas ransel yang berisi makanan untuk tiga hari dan peluru untuk bertahan hidup, dan satu-satunya penjaga hidupmu adalah senjata yang kau tenteng sendiri. Jika senjatamu macet, matilah kau, atau rebut senjata musuhmu. Aku tidak percaya itu terjadi dalam hidupku, bergerak menembus hutan sampai menemui garis pantai di sisi lain pulau ini. Aku tidak ingin berpikir lebih jauh mengenai siapa atau apa akan kutemui nanti. Aku berharap tidak melepaskan tembakan ke arah siapapun.

Seorang serdadu mendekat kepadaku, sambil berjalan menerobos hutan ia bercerita banyak hal mengenai pengalaman hidupnya. Aku tersenyum melihatnya bercerita dengan begitu semangat, bahkan sampai air liurnya melompat kemana-mana dari mulutnya ketika ia berkisah menyaksikan kelahiran anak pertamanya, “laki-laki!” teriaknya gembira. Tentu saja aku agak waswas karena suaranya bisa mengundang kecurigaan musuh. Aku tidak tahu apakah pulau ini berpenghuni atau tidak. Karena menurut data intelijen yang kudengar kami dikirim kemari untuk memeriksa kebenaran tersebut, kalau pulau ini akan dijadikan basis pertahanan musuh. Jika demikian kami dikirim ke kandang harimau. Karena kalau mendengar istilah basis pertahanan tentulah kami akan menghadapi ribuan serdadu dan alat penghancur yang ganas. Senjataku hanya laras panjang semi otomatis dan senjata genggam melingkar di pinggang untuk bertahan hidup jika senapanku kehabisan peluru. Tiga granat yang cukup menghadapi beberapa serangan. Aku tidak membawa alat berat, tugas kami hanya menyapu tempat ini, jika dugaan intelijen benar maka siapapun yang berhasil lolos harus melaporkannya ke pusat. Aku pikir, mudah-mudahan misi ini hanya piknik, tidak lebih.

***

Aku bersembunyi di sarang lintah dan cacing-cacing menggeliat di sebagian tubuhku. Air hujan mengundang mereka keluar dari dalam tanah. Aku seperti mayat hidup, dihisap ketika jantungku masih berdetak, bahkan aku mendengar mereka berpesta di atas tubuhku yang mulai kedinginan. Aku tidak bisa keluar dari persembunyian, jika tidak, aku mungkin tidak bisa selamat. Sebagian besar musuh mengintai diantara persembunyianku. Bedanya, mereka di atas, aku menenggelamkan diri dalam tanah. Celakanya, aku bersembunyi disarang lintah. Jadi, aku tidak bisa membayangkan lebih jauh ketika mereka berpesta di atas tubuhku.

Hujan semakin deras, persembunyianku tergenang hingga menyisakan kepalaku, aku tenggelam dalam lubang yang kubuat. Seperti menggali kuburan sendiri. Tidak, aku tidak ingin berakhir seperti ini, aku tidak ingin lubang ini menghabisi hidupku mentah-mentah, lintah celaka itu tidak seharusnya berpesta di atas tubuhku. Gemetar mencabut lintah dari tubuhku, mereka kekenyangan, darah segera membuncah dari kulitku, sedikit berlubang, tapi tidak terasa sakit. Sekali lagi kuperiksa senjataku, ah, ia masih dalam genggaman. aku lihat seekor cacing menggeliat menjalar pada laras pistolku. Daging segar, ketidaksadaranku mulai berdialog, sepertinya antara aku dan diriku setuju, untuk saat ini cacing itu adalah daging segar. Dan perutku tidak memilah makan malam hari ini. Tidak terlalu buruk rasanya, aku memaksakan mengunyah lebih cepat untuk kali kedua sampai aku tidak perlu menghitung berapa ekor lagi  kujadikan makan malam. Dan kau tahu, ini kali pertama aku makan sushi.

Jadi, aku mulai membayangkan makan malam yang indah. Hujan adalah musik, kau tahu berapa banyak orang merindukan suara gerimis pada makan malam mereka yang romantis. Tentu saja aku tersenyum ketika mengingat makan malam dengan tunanganku, Sasha, ah nama yang tak akan pernah lepas dari hatiku. Jadi, aku mulai perbincangan kami sambil tetap memperhatikan senyum dan pipinya yang merona, atau cahaya lilin di meja kami menyihir sebuah tatapan menjadi keindahan tersendiri. Kau pernah melihat mata kekasihmu dengan bayang cahaya lilin? Kalau kau menemukan kedamaian, aku rasa itulah yang coba kuungkapkan. Kalau sudah demikian, malam tak akan pernah pendek, karena setiap orang pasti akan mencoba hentikan waktu dan berharap cukup malam ini yang tak perlu berakhir. Dan banyak dari mereka hanya menemukan mimpi tetap bersemayam dalam benak. Karena aku tahu, seperti juga kau, kita sepakat waktu tak pernah berhenti.

Aku sedikit senang karena waktu tak perlu berhenti malam ini, jika tidak aku benar-benar dihabisi oleh lubang ini. Hujan berhenti, begitu juga musik dalam kepalaku, membuyarkan segala hayalan. Rasa dingin tetap menyadarkan dan menjaga kewaspadaanku. Tidak ada suara apapun, keheningan ini meresahkan, bahkan suara katak yang biasanya ramai setelah hujan reda juga tidak terdengar. Hanya gelap, sepi, sementara tubuhku semakin menggigil dan memeluk pistol dengan moncong mengarah ke arah dagu. Aku berharap jari telunjukku tidak memicu pelatuknya karena gemetar.

***

Sejak usia muda aku telah mengikuti banyak pertempuran, jiwaku terbakar ketika peluru-peluru menerjang angin dan mencoba menembus dagingku, entah kenapa aku selalu selamat, meski luka-luka menyertai kepulanganku ke kamp tempat batalion kami mendirikan basis pertahanan. Di antara garis musuh aku beristirahat dan berdoa.

Kadang aku hanya tersenyum, aku tidak tahu doaku adalah untuk keselamatanku atau untuk peperangan ini. Aku rasa batas itu telah kabur. Karena jika kau telah merenggut hidup seseorang kau telah kehilangan sisi kemanusiaanmu. Aku tidak tahu untuk apa aku berperang, dan menembus garis musuh dalam setiap pertempuran. Di sana aku berjuang untuk tetap hidup. Jika kau melepaskan ingatan-ingatan orang yang kau sayangi dan cintai dalam pertempuran, aku rasa, kau telah menyerahkan hidupmu. Kau tidak akan kembali pulang seperti ketika kau pergi meninggalkan mereka. Untuk sekarang, aku belum menyerah.

Tidak sedikit aku melihat kekosongan dimata orang-orang yang tanahnya telah kau porak-porandakan, wajah yang masih hangat oleh debu dan aroma mesiu yang dijatuhkan tepat diatas rumah kelahiran mereka dan anak cucu mereka. Bahkan tak ada lagi tawa anak-anak setelahnya. Kau hanya melihat kehampaan ketika kau menginjakkan kaki memasuki tanah mereka dengan senjata yang kau pegang masih terkokang dan telunjukmu waspada pada pelatuknya. Aku masih sanggup meneruskan pertempuran, tapi aku menyerah pada kehampaan mereka. Seorang prajurit dari kompiku pernah mengejekku dan mengatakan kalau aku cengeng. Aku tak peduli, setidaknya aku masih bertempur. Jadi aku harus tetap berdiri melihat mereka disudut tiang rumah mereka yang baru saja hancur, meski aku tahu bisa saja salah satu peluruku membunuh suami mereka, ayah mereka, atau anak mereka yang tidak tahu apa-apa. Kau tahu, bahwa satu peluru bisa membinasakan mimpi seseorang selama beberapa generasi. Dibutuhkan banyak keberanian untuk melupakan dan membangun kembali batu-batu yang telah hancur menjadi harapan baru. Tidak banyak orang sanggup melakukannya, belum tentu juga aku.

Dan aku, aku belum mati. Jika aku binasa malam ini, setidaknya mimpiku tetap hidup. Kalau satu hari nanti, aku akan pulang. Karena aku tidak pernah memilih kendaraanku ketika pulang setelah bertempur, entah dengan pakaian berlumpur atau dalam secarik surat. Aku pasti akan pulang.***swl***

 

Posted in CERPEN | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

IMPIAN

Posted by permanas pada 9 Agustus 2013

Sering saya bertanya-tanya tentang bagaimana sebuah impian bisa bekerja sedemikian dahsyatnya kepada hidup seseorang, tak terkecuali saya, bagaimana harapan-harapan melampaui eksistensi dan menembus waktu, menembus dimensi nyata menjadi sebutir debu dalam pikiran tetapi memiliki efek dahsyat kepada jiwa dan menggerakkan tubuh untuk tunduk dan patuh kepadanya, dan alam sekitar mendukung realitas yang sekecil itu menjadi raksasa  tak terkalahkan. Layaknya bom atom, ia melepaskan energi tak terkira hingga tak ada sesuatu mampu menghalangi seseorang dari impiannya, idealisnya, pikirannya. Ada petuah bijak mengatakan “kau bisa menghalangi seseorang untuk bertindak, tapi tidak kepada pikirannya.”

Terlepas apakah impian itu baik atau buruk, karena bagi saya hal itu bersifat personal, saya mencermati energi yang dilepaskan ketika sebuah harapan tercipta adalah sebuah energi yang tidak dapat dihitung secara matematis maupun secara empiris dari individu yang melepaskan energi tersebut. Apakah anda seorang spiritualis atau tidak, medan energi inilah yang bagi saya bisa dikatakan energi Illahiah yang tersimpan dalam diri seseorang muncul entah karena tekanan atau emosi yang memuncak yang memungkinkannya muncul kepermukaan, alam menyerap energi tersebut dan membalikkannya lalu mendukungnya kapanpun dibutuhkan. Saya teringat sebuah kata “mestakung” atau semesta mendukung.

Pernah mendengar sebuah cerita seseorang yang dikejar , di depan ia melihat parit sangat lebar, mustahil untuk dilompati,  tanpa berpikir panjang ia lompati dan bisa melompatinya. Ia sendiri sampai tidak percaya dan melompatinya untuk kedua kali, kali ini tidak sedang dikejar. Apa yang terjadi, ia tercebur!

Apakah energi tersebut bisa muncul kapan saja atau muncul saat benar-benar dibutuhkan? Saya pikir apapun motivasinya, harapan selalu ada, dalam hal ini energi-energi itu tetap berada disekeliling siap membantu ketika ia benar-benar diinginkan.  Jadi apa yang terjadi dalam kenyataan saya hari ini adalah berdasarkan impian yang telah saya tanamkan dalam benak saya, efek ini bisa berlangsung dalam jangka pendek atau jangka panjang dalam kehidupan saya, tergantung seberapa besar saya menginginkannya ada dalam kehidupan nyata saya. Saya mencoba memahami energi-energi yang tersebar bebas disekeliling saya dan mencoba memanfaatkanya. Lambat laun apa yang dahulu hanya ada dalam pikiran saya mulai menjelma dalam kehidupan pribadi saya. Hal ini mungkin bekerja secara berbeda-beda kepada setiap individu, tapi, saya pikir, cara kerjanya tetap sama, karena mengingat sifatnya yang universal dan Illahiah.

Energi-energi yang terkandung dalam sebuah impian ini tidak berlangsung secara serempak, ia memilih dan memilah, setidaknya apa yang benar-benar dibutuhkan pada saat dimana saya memerlukannya adalah tepat ketika saya memang layak mendapatkan impian saya. Ingat kisah di atas, ia bisa melompati parit lebar ketika ia benar-benar membutuhkan bahwa ia harus melompatinya, dan, walah! Ia melompatinya. Hebat, sungguh hebat! Jadi, jangan remehkan impian seseorang, bahkan impian seorang anak kecil pun layak dihargai!

Kalau suatu hari anak Anda mendatangi Anda seusai pulang sekolah dengan wajah jengkel dan berkata kalau ia ingin membuat bom super untuk meledakkan sekolahnya. Saya pikir anda harus tersenyum dan mendukungnya agar menjadi ahli  peledak. Kalau soal sekolahnya, Anda harus berpikir dua kali apakah anak  Anda yang bermasalah atau sistem lembaga pendidikannya yang sudah uzur sehingga tidak bisa menampung aspirasi peserta didiknya untuk berpikir lebih kreatif. Untuk hal ini saya mungkin bercanda, mungkin saja anak Anda memang cuma ingin meledakkan sekolah agar tidak usah masuk sekolah keeesokan harinya.🙂 salam.

Posted in TULISAN LEPAS | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 1 Comment »

MENJADI MANUSIA TIDAK WAJAR

Posted by permanas pada 4 Agustus 2013

Manusia adalah pribadi yang berbeda satu sama lain, saya sangat setuju, tapi ketika hak untuk berbeda itu ditolak tanpa mempertimbangkan kemerdekaan secara individu dan secara sosial, saya rasa justru itulah masalah dari sebuah pemberontakan dimana penolakan merupakan titik terendah dari rasa kemanusiaaan untuk secara total berbeda.

Ada yang ingin berbeda secara fisik, ada yang ingin berbeda secara pemikiran, bahkan sampai hal  yang sangat fundamental, ada  yang ingin berbeda sampai kepada masalah rasa dan jiwa. Sah-sah saja ketika ada  yang bilang rasa garam itu bukan asin melainkan asam atau manis. Meski secara fakta garam itu identik dengan rasa asin, tapi dalam kondisi tertentu, jangan paksakan kebenaran umum menjadi kebenaran individu yang harus dijejalkan menjadi kebenaran bagi dirinya. Pribadi yang merdeka akan selalu gelisah dan tidak pernah puas akan keadaan saat ini. Ia akan selalu mencari batas-batas yang orang lain belum pernah mencapainya, atau tidak ingin mencapai batas-batas tersebut karena sudah saking nyamannya dengan keadaan saat ini yang ia percayai sebagai batas tertinggi yang telah ia capai.

Maka, dalam titik tertentu, saya tidak pernah merasa direndahkan ketika seseorang bilang kalau saya tidak waras, diluar kewajaran umum, jiwa yang chaos, dan entah apalagi obrolan yang membuat saya tersenyum sendirian karena mungkin terlalu lucu bagi saya untuk menyita pikiran dengan hal sepele yang bagi mereka justru sangat penting karena dapat mengganggu stabilitas kebenaran umum yang telah mereka yakini sebelumnya, bahkan hingga saat ini.

Jadi, kalau tiba-tiba saya melihat orang telanjang ditengah jalan yang menurut prasangka umum ia adalah orang gila, boleh saja saya menduga ia tengah berlatih peran secara totalitas bagaimana rasanya menjadi orang diluar kewarasan umum yang pada saatnya akan ia tunjukkan di muka umum di atas panggung, dan pada gilirannya mendapat penghargaan karena telah menempuh batasan yang orang lain tidak mau menyentuh batasan itu secara pribadi. Justru itulah kemenangan atas individu ketika batasan itu bukan lagi hal yang tabu untuk didobrak.

Secara tidak sadar saya suka trenyuh melihat kegilaan yang dipanggungkan dihadapan penonton yang justru sangat waras dan wajar, aplaus atas kegilaan menjadi sedemikian pentingnya dalam dunia yang serba singkat ini demi hanya untuk memperpanjang sedikit waktu bahwa ketidakwarasan itu sudah sepantasnya mendapat pengharagaan. Anggapan bahwa panggung itu memang sengaja dipersiapkan untuk segala ketidakwajaran atas kehidupan dan bangku-bangku yang penuh sesak dengan “kewajaran” itu pun datang memang mengharapkan “sesuatu” terjadi di atas sana. Bahwa kelak, tawa yang terbahak-bahak itu  justru sedang menertawakan kehidupannya sendiri. Dan kebangggaan itu dikukuhkan dengan penghormatan applaus standing yang tanpa henti (dalam menepuk tangan untuk diri sendiri) dengan mengamini ketidakwajaran ini adalah hal lumrah dan tidak perlu lagi menjadi pertanyaan. Tanpa mendapat perintah, saya pun ikut menepuk tangan sendiri sambil melihat orang disamping saya yang juga tengah menepuk tangan (dengan pikiran mengawang) tapi tetap berusaha tersenyum tanpa bisa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Salam.

Posted in UNIK | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Saya Superman

Posted by permanas pada 22 Juli 2013

Suatu kali, saya bertanya kepada diri sendiri apa yang akan terjadi ketika melakukan sesuatu hal diluar tindakan saya sebagai manusia biasa. Katakanlah apa yang orang pikirkan kalau saya memakai pakaian Superman, atau Spiderman, bahkan Superwomen ditengah keramaian dimana pada saat itu tidak sedang diadakan pesta kostum apapun untuk mengekspresikan diri melalui pahlawan-pahlawan import itu.

Mungkin, lebih dari yang saya  harapkan, atau pikiran-pikiran menjelma menjadi sebuah apriori masal, menganggap ketidakbiasaan saya pada saat itu adalah merupakan kegilaan sesaat ketika kewajaran bukan lagi kebiasaan melainkan anomali singkat dari psikologis seseorang (baca: saya) menginginkan sesuatu yang lain daripada himpitan rutinitas kehidupan dimana seseorang dihadapkan pada situasi itu-itu saja sepanjang ingatannya yang tidak pernah melakukan hal lain, kecuali apa yang selalu dilakukannya setiap hari.

Maka, adakalanya saya merasa beruntung bahwa saya selalu diingatkan oleh pikiran bawah sadar saya kalau saya diberi hak dan kebebasan penuh untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu di dalam pikiran sadar saya. Sejatinya, pikiran saya selalu bermetamorfosis, ambigu, tidak tetap satu wujud, melainkan banyak rupa.

Saya sempat dibuat repot waktu pikiran saya menyusupi  ingatan-ingatan yang tidak ingin saya lihat lagi, tidak ingin saya ungkap lagi. Maka untuk menunjukkan siapa tuan dari pikiran tersebut, sepanjang ia tetap membuat saya waras, saya merubah diri saya menjadi sesuatu yang lain, yang kuat, manusia yang memiliki segala keunggulan daripada manusia-manusia lain dan bersembunyi diantara banyak keramaian. Jadilah, pilihan saya jatuhkan pada pahlawan-pahlawan import itu. Karena selama ingatan masa kecil saya, mata saya (pikiran saya) telah mengalami pencucian otak dimana, melalui televisi, merekalah yang terkuat dibandingkan manusia lain (bahkan juga menyusup dalam iklan komersial). Jadi, mau tidak mau, keterpaksaan itulah yang membuat saya pada saat sekarang ini berada ditengah kerumunan dengan memakai kostum Superman sedapatnya, maksudnya semampu pikiran saya berkreasi. Tapi, toh, itu tidak memadamkan hasrat menggebu untuk meninggikan ke-euforia-an saya yang sesaat itu bahwa saya mampu berpikir kalau saya bisa melebihi siapapun, bahkan termasuk Anda. Jangan remehkan kekuatan pikiran anda. Salam.

Posted in UNIK | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

rumahku

Posted by permanas pada 21 Oktober 2012

rumahku, di sana,

gadisku.

aku membangunnya sendiri.
kejujuran yang kujaga bertahun lamanya,

telah kujadikan pondasi.
rasa malu-ku jadi dindingnya.
pintu itu,

ah,

itu hatiku yang selalu terbuka menyambut.

keringat dan kerja keras
adalah atap yang menjaga rumahku
tetap bertahan dari panas dan hujan.
jika kau bertamu ke rumahku,
terang sudah kegelapan
yang mendekam di dalamnya.

Posted in PUISI | Leave a Comment »

Pintamu

Posted by permanas pada 2 Mei 2012

Jadi, kau menungguku?

Sejak lama
geliat rindu
geliat sepi menari-nari di mimpimu; ceritamu padaku.

Aku tahu dalamnya matamu;
ah, aku tahu bahasa tubuh itu.
Kau ingin aku membacanya.

Sendiri malam
Sendiri pembaringan
Sendiri waktu
Sendiri aku;
Katamu.

Bawa aku
Tuntun aku
Simpan aku (di hati)
Pintamu.

Posted in PUISI | Leave a Comment »

MENGEJAR DAN MIMPI

Posted by permanas pada 18 Januari 2011

Setiap saya bangun pagi saya selalu berhadapan dan berjuang untuk menarik kelopak mata saya, rasa kantuk dan rasa malas. Saya juga tahu betapa nikmatnya andai saya mengikuti rasa kantuk itu dan meneruskan tidur, menarik kembali selimut dan merajut mimpi baru hingga saya dininabobokan sampai sekan mimpi itu tidak lain adalah kenyataan saya sendiri sebagaimana saya hidup dalam realitas yang saya yakini kebenarannya. Dalam kenyataannya saya ada dalam mimpi yang saya ciptakan, bukan kenyataan yang membuat saya ada sebagaimana mestinya. Dalam kenyataan saya berperan sebagai obyek yang membuat sekeliling saya menjadi obyek yang bermakna dan diberikan makna saya bertindak sesuai dengan peraturan dan hukum universal dimana saya ada sebagaimana orang lain ada.

Saya, dalam mimpi saya, saya tidak lain adalah obyek sekaligus subyek yang menciptakan kondisinya sendiri dan memaknai dirinya sendiri, tergantung cerapan saya terhadap indera-indera bawah sadar saya merespon pikiran dan keinginan saya yang tersembunyi. Saya bisa menjadi apa dan siapa saja sesuai dengan permainan-permainan yang ada dalam pikiran, meski pola-pola kejadian tidak pernah dapat ditentukan dan diduga namun semua itu merupakan perwujudan keinginan dan ekspekstasi bawah sadar yang diam ketika saya terjaga, dan secara mengejutkan, diri-diri saya yang lain mengambil alih kontrol justru ketika saya sedang tidak terjaga, terlelap, tidur. Dan disitulah mengapa saya kadang senang tidur berlama-lama karena saya sangat menikmati ketika saya menjadi “diri” saya dalam kondisi yang benar-benar berbeda. Saya bisa melintasi dan melangkahi hukum-hukum universal dimana saya tidak harus terikat dengan hukum gravitasi atau hukum apapun yang pernah terkait dengan kehidupan dan perilaku saya dalam kehidupan nyata saya. Dalam keadaan disaat “diri” saya mengambil alih saya bisa menolak semua bentuk hukum, bahkan hukum yang terjadi dalam “kenyataan” saya sebagai pribadi lain, dalam mimpi saya tentunya. Mungkin karena itu pula ya saya akan sangat marah sekali jika seseorang mengganggu tidur saya. Apa mungkin Anda juga ya?

Sementara saya dalam keadaan sadar, mimpi itu merubah wujud dalam pikiran saya dan menjadi kompas kemana saya harus melangkah dan tindakan apa yang harus saya lakukan dan keputusan-keputusan yang senantiasa harus saya ambil demi mewujudnya mimpi saya tersebut. Antara mengejar dan mimpi akhirnya menjadi satu jalinan utuh, saya harus merajutnya sedemikian rupa sampai hal itu benar-benar ada, terjadi, dapat saya sentuh, saya rasakan, bahkan benar-benar saya alami dalam waktu bersamaan ketika saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah ini mimpi?

Bermimpi dan mengejar mimpi adalah seperti bagaikan air dan daratan. Dalam mimpi saya benar-benar merenangi dan mencoba menelusuri kedalamannya, semakin dalam, tanpa disadari justru semakin tenggelam. Semakin saya menemukan keindahan panorama bawah air, semakin saya melupakan daratan di mana saya semestinya berada dan dengan apa seharusnya saya bernafas. Dan semakin saya tenggelam semakin sadar bahwa batasan antara udara dan air telah sebegitu jauhnya karena saya telah berada di dasarnya.

Posted in DARI HATI | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 921 pengikut lainnya